Senin, 05 Desember 2011

Tijaniyah Jawa Timur



Tijaniyah Jawa Timur

Ajaran thariqat tijaniyah di Jawa Timur, pada masa awal terpusat di Podok Pesantren “Nahdat al-Thalibin”, Blado Wetan Banyu Anyar Probolinggo, yang dirintis dan dikembangkan oleh KH. Khozin Syamsul Mu’in. Pada tahun 1927 M., ia pergi ke Makkah untuk mendalami ilmu agama, dan bermukim disana selama sepuluh tahun, karena ia pulang pada tahun 1937 M. ketika di Makkah ia berguru dalam bidang thariqat kepada Syekh Muhammad bin Abd hamid al-Futi; sampai diangkat sebagai muqaddam. Sepulangnya ke tanah air ia tidak langsung mengembangkan ajaran Thariqat Tijaniyah, akan tetapi terlebih dahulu ia mendirikan pesantren “Nahdat al-Thalibin” di Blado Wetan Banyu Anyar Probolinggo. Hal ini dimaksudkan untuk melakukan pengajaran ilmu agama Islam kepada masyarakat di sekitar Blado Wetan Banyu Anyar. Penyebaran Thariqat Tijaniyah dimulai pada tahun 1952 setelah terlebih dahulu ia mendapat teguran ---melalui mimpi--- dari Syekh Ahmad al-Tijani
Pada awal pengembangan jama’ah Thariqat Tijaniyah, KH. Khozin menerapkan aturan yang sangat ketat, dalam arti ia sangat selektif dalam memberikan izin mengamalkan Thariqat Tijaniyah. Setiap calon murid, terlebih dahulu harus menguasai ilmu dasar-dasar aqidah dan syari’at. Sikap demikian, tampaknya muncul dari kekhawatirannya tentang persyaratan murid tijaniyah, dimana ia harus megamalkan Thariqat sampai akhir hayatnya dan tidak boleh menggabungkan dengan amalan thariqat lain, disamping persyaratan-persyaratan lain yang mengikat murid tijaniyah. Pada tahun 1954 M., ia mengangkat KH. Qusayiri ---pengasuh pondok pesantren Lubbul Labib--- sebagai muqaddam di didesa Kedungsari Kec. Maron Blado Wetan. Kemudian pada tahun 1967 M. ia mengangkat KH. Ahmad Taufik Hidayatullah Genggong Pajarakan Probolinggo sebagai muqaddam, melalui dua tokoh ini, Thariqat Tijaniyah di Probolinggo secara bertahap semakin dikenal masyarakat. Metode pengembangan jama’ah yang dilakukan KH. Khozin, sangat ideal apabila dikaitkan dengan tanggung jawab tarbiyah thariqatnya. Namun apabila dihubungkan dengan pengembangan jama’ah, tentu saja metode ini kurang efektif. Ia mengembangkan ajaran thairqat tijaniyah, sampai wafat pada tahun 1978, dalam usia 87 tahun, karena ia lahir pada tahun 1891 M. dan dimakamkan di komplek pesantren Nahdat al-Thalibin Bladuwetan Probolinggo.
Setelah KH. Khozin wafat, pengembangan ajaran Thariqat Tijaniyah di amanatkan kepada KH. Mukhlas Ahmad Ghazi ---saudara ipar KH. Khozin---;hal ini, lebih dimungkinkan karena ia dianggap sudah mempunyai bekal tentang ilmu thariqa,. sedangkan putranya pada masa itu masih ingin menelaah secara lebih mendalam tentang ilmu thariqat.
Apabila Kiyai Khozin melakukan metode pengembangan kejamaahan secara ketat, maka pada periode KH. Muchlas Ahmad Ghozi, dilakukan secara “longgar” dalam arti persyaratan untuk menjadi murid tijaniyah tidak seketat pendahulunya. Dengan kata lain persyaratan masuk thariqat lebih dipermudah, ia bersemboyan “lebih baik masuk dahulu lalu diperbaiki dari dalam, daripada tidak masuk sama sekali” Perubahan metode dan kebijakan ini, sangat berpengaruh besar pada percepatan dan perkembangan jama’ah Thariqat Tinjaniyah. Pada masa kepemimpinannya, Thariqat Tijaniyah di Probolinggo menyebar ke Besuki, Bondowoso, Situ Bondo, Bangkalan Madura dan beberapa Kota di Jawa Timur. Dan ia wafat pada hari Juma’t 20 Rajab 1411 H., bertepatan dengan tahun 1991 M., dan dimakamkan di Maqbaroh keluarga Ponpes Nahdat al-Thalibin, Bladuwetan Probolinggo. Selanjutnya kepemimpinan Thariqat Tijaniyah di pesantren ini dilanjutkan oleh KH. Abu Yazid al-Bustomi yang ditunjuk langsung oleh KH. Umar Baidhowi saat pemakaman KH. Mukhlas Ahmad Ghozi dan langsung memperoleh izin membaca kitab “jawahir al-ma’ani” di Zawiyah induk Thariqat Tijaniyah di Komplek Pesantren Nahdat al-Thalibin Probolinggo.
Perkembangan selanjutnya Thariqat Tijaniyah di Probolinggo di kembangkan melalui sanad Syekh Muhammad bi Yusuf Surabaya ---Ia megambil sanad thariqat dari KH. Khowi--- ia adalah seorang ulama yang mempunyai pengaruh besar di Surabaya bahkan sampai ke Madura. Dalam mengembangkan ajaran thariqatnya ia mengangkat beberapa muqadda, antara lain : KH. Umar Baidhowi, sepanjang Surabaya, KH. Usman Bondowoso, KH. Musthofa, Sidoarjo, KH. Abdulloh Abu Hasan, Probolinggo, KH. Abdul Wahid, Kraksan Proboloinggo, KH. Dhofirudin, Kraksan Probolinggo, KH. Hasyim Abdul Ghafur dan KH. Tamam Surabaya”. Ia wafat pada tahun 1984 M., dan dimakamkan di komplek pemakaman Ampel Surabaya. Sebelum wafat ia telah mengangkat putranya yaitu KH. Ubaidillah bin Muhammad bin Yusuf sebagai muqaddam.
Tampilnya para muqaddam yang diangkat oleh Syekh Muhammad bin Yusuf membangun kegairahan dalam melakukan dakwah Thariqat Tijaniyah terutama yang di prakarsai oleh KH. Mas Umar Baidhowi, ia adalah figur ulama yang sholeh dan wara’. Ia melakukan pengembangan thariqat tijaniyah sejak masa Syekh Muhammad bin Yusuf. Melalui KH. Baidhowi, Thariqat Tijaniyah menembus daerah Batu, Blitar, Gresik, Mojokerto dan daerah lainnya di Jawa Timur. Melalui kepemimpinannya thariqat tijniyah di Jawa Timur semakin pesat. Selain itu ia melakukan terobosan baru dalam pengembangan dakwah Thariqat Tijaniyah, antara lain : (1) pada tahun 1979 ia menyusun buku manaqib Syekh Ahmad al-Tijani yang diberi nama Faidh al-Rabbani. Dengan terbitnya kitab ini, gairah jamaah Thariqat Tijaniyah dalam mereflesikan kecintaan murid Thariqat Tijaniyah terhadap Syekh Ahmad al-Tijani sangat tampak. Kitab ini tanpa diduga menjadi Silabus dalam setiap kegiatan Thariqat Tijaniyah, termasuk acara-acara syukuran-syukuran yang dilakukan oleh jamaah thariqat tijaniyah. Hal lain melalui kitab ini, secara langsung memberikan informasi tentang Syekh Ahmad al-Tijani dan thariqatnya tersosialisasi secara lebih luas. Selain itu berkah terbitnya kitab ini terlembagakan “manaqiban” yang dilaksanakan setiap tanggal 17 bulan Qomariyah, tentu saja aktifitas ini disamping menarik minat jamaah Thariqat Tijaniyah, juga menjadi fasilitator “muhibbin” untuk turut serta.(2) ia merinttis dan mencetuskan gagasan besar dalam sejarah perkembangan Thariqat Tijaniyah di Indonesia yakni membangun tradisi Idul Khotmi Syekh Ahmad al-Tijani RA. (3) pada tahun 1987 ia bersama KH. Ubaidilah bin Muhammad bin Yusuf melakukan shilatussanad Thariqat Tijaniyah dengan pusat Thariqat Tijaniyah di Maroko sekaligus melakukan ziarah ke maqam Syekh Ahmad al-Tijani di Fez Maroko. (4) ia melakukan safari pengajian dalam rangka mengembangkan kajian-kajian kitab kuning khususnya tentang Thariqat Tijaniyah, melalui kajian kitab Jawahir al-ma’ani dan munyat al-Murid. Diantaranya di jatibarang, Brebes Jawa Tengah ---di kediaman Syekh Muhammad bin Ali Basalamah---, Malang ---di kediaman almarhum KH. Ahmad Dimyati---, Zawiyah Thariqat Tijaniyah Blado Wetan Probolingo ---kediaman KH. Mukhlas Ahmad Ghazi---, lumajang ---di kediaman Habib Idrus bin Ali Baharun--- dan Betoyo Gresik Jawa Timur. Kecintaannya terhadap ilmu agama khususnya ilmu thariqat, ia selalu mendorong ikhwan thariqat tijaniyah agar “selalu ngaji”.
Ia menghabiskan seluruh waktunya guna mengembangkan Thariqat Tijaniyah sampai akhir hayatnya. Ia dipanggil menghadap Allah Swt., pada tahun 1999 M., diantara muqaddam yang diangkat KH. Umar Baidhawi, antara lain : Syekh Abdul Ghafur, Ma’sum Bodowoso Jawa Timur; Hajjah Hanna, Kuningan Jawa Barat; Syekh Mahfudz, Kuningan Jawa Barat; Syekh Nawawi Ustman, Bodowoso Jawa Timur; Syekh Ridhwan Abd. Rahman, Pulung Sari Blitar Jawa Timur; Hajjah Ruqoyyah Khozin, Bladuwetan, Probolinggo Jawa Timur; Syekh Abu Yazid bin Khozin, Bladu Wetan Banyuanyar Probolinggo; Ust. Abd Aziz al-Hamdani, MA., Condet Jakarta Timur dan al-Habib Ja’far Ali Baharun, Brani Maron Probolinggo.
Sebelum ia wafat amanat pembinaan Thariqat Tijaniyah diserahkan kepada putranya; KH. Ibrahim Basyaiban, dibantu adiknya; Ustadz Anshori. Dalam melaksanakan amanatnya, ia melanjutkan program pendahulunya seperti “Pengajian Selasa akhir” yang dilakukan secara safari antar kota di Jawa Timur.
Perkembangan thariqat tijaniyah di probolinggo, pada masa KH. Umar Baidhawi, didukung dengan tampilnya dua muqaddam yang cukup enerjik yakni KH. Badri Masduqi dan KH. Habib Ja’far Ali Baharun.
KH. Badri Masduqi ---Pimpinan Pondok Pesantren Badriduja Kraksaan Probolinggo--- ia diangkat muqaddam oleh KH. Muhammad bin Yusuf pada tahun 1981 M. Ia adalah pigur ulama yang mumpuni, ia juga terkenal keberaniannya dalam mensosialisasikan ajaran Thariqat Tijaniyah. Kehadiran KH. Badri Masduqi dalam pengembangan thariqat tijaniyah, mendukung ketegaran dakwah thariqat tijaniyah yang dilakukan para muqaddam terutama dikaitkan dengan sikap para penentang. Ia melakukan perlawanan terhadap para penentang secara tegas. Kiyai Sukron Ma’mun ---Mubaligh Kondang Jakarta--- dan Kiyai Anas Thahir ---senior PWNU Jawa Timur---; dua tokoh ini adalah penentang Thariqat Tijaniyah; keberanian KH. Badri Masduqi memungkinkan untuk melakukan perlawanan melalui “kaset-kaset” seacara terang-terangan kepada dua tokoh ini. Pada tahun 1987 Idul Khotmi dilaksanakandi Pondok Pesantren Buntet Cirebon dan salah satu agendanya adalah membahas kemuktabaran Thariqat Tijaniyah, ketika itu ditampilkan tiga makalah : dari kelompok penetang diwakili oleh KH. Husein Muhammad, dari kelompok peneliti diwakili oleh Martin van Bruinessen dan KH. Badri tampil mewakili intern Thariqat Tijaniyah. Semangat juang dan kegigihan KH. Badri Masduqi dalam mengembangkan dan membela ajaran Thariqat Tijaniyah tetap bergelora sampai wafatnya pada hari ahad tanggal 20 Sya’ban 1423 H., bertepatan dengan 21 Nopember 2002 M. Sedangkan kehadiran Habib Ja’far Ali baharun, ---ia diangkat muqaddam oleh Syekh Muhammad al-Thayyib dan dikukuhkan oleh KH. Umar Baidhowi--- dalam peta pengembangan dakwah thariqat tijaniyah berbeda dengan KH. Badri Masduqi, tampilannya lebih tampak sebagai “Bapak”. Dalam mewujudkan tanggung jawabnya dalam hal kejamaahan, ia megupayakan hal-hal sebagai berikut : Ia berusaha mempersatukan jama’ah thariqat tijaniyah yang ada di Indonesia; mempertemukan gagasan-gagasan muqadda; berusaha mengembangkan tradisi Idul Khotmi menembus kota-kota di Jawa Timur yang minoritas Tijani; melakukan hailallah keliling dari satu tempat ketempat lain; menjadikan wirid ikhtiyariyah Thariqat Tijaniyah yang di tertibkan dalam “al-Hishn al-Hashin” karya KH. Umar Baidhowi menjadi “kurikulum” resmi pada setiap peringatan Idul Khotmi; wirid dalam buku ini dijadikan bacaan wirid ikhtiyariyyah dalam tradisi khalwat al-Tijaniyah yang dikembangkannya. Selain hal yang telah disebutkan, ia mengidentifikasikan nama pesantren yang didirikannya dengan Thariqat Tijaniyah. Nama pesantren dimaksud “al-Tarbiyat al-Tijaniyah”. Dan di pesantren ini setiap tahun diadakan haul akbar Syekh Ahmad al-Tijani yang digabungkan dengan peringatan maulid nabi saw., setiap bulan Rabi’ul awal.
Selain dua tokoh yang telah disebutkan, perkembangan Thariqat Tijaniyah di Probolinggo Pada khususnya dan Jawa Timur pada umumnya, tokoh KH. Fauzan Adhiman Fathullah ---ia diangkat muqaddam oleh Syekh Muhammad bin Yusuf dan Habib Muhammad al-Thayyib--- punya andil besar dalam menjelaskam ajaran thariqat tijaniyah melalui karya tulisnya, antara lain (1) Sayyid al-Awliya (2) terjemah wahaya (wasiat-wasiat Syekh Ahmad al-Tijani) dan masyrab al-Tijani. Melalui karya tulisnya, jamaah Thariqat Tijaniyah memperoleh informasi yang mendalam tentang Syekh Ahmad al-Tijani dan thariqatnya. Martin Van Bruinessen menyebutnya sebagai “Intelektual Thariqat Tijaniyah”.
Melalui peran-peran muqaddam Thariqat Tijaniyah sebagaimana telah disebutkan, secara umum membangun kegairahan berthariqat yang berimplikasi pada perkembangan jamaah Thariqat Tijaniyah di Jawa Timur.
Dalam pengembangan thariqat tijaniyah di Jawa Timur, selain peran-peran muqaddam yang telah disebutkan, masih banyak muqaddam yang mempunyai andil dalam pengembangan thariqat ini antar lain : KH. Ali tamam, Surabaya, sedangkan di Probolinggo adalah KH. Mas Mi’ad Imadudin, Probolinggo, KH. Abdul Wahid, KH. Musthafa, Habib Muhammad bin Ahmad, KH. Dhafirudin dan KH. Bahar Syamsudin; di bondowoso :KH. Abdul Ghafur maksum, KH. Nawawi Usman, KH. Basyuri dan KH. Ahmad Jamaludin; Sidoarjo : dikembangkan oleh KH. Musthafa; Blitar :KH. Hadin Muhtadim KH. Ridwan Abd Rohman dan KH. Mujab bin Hadin Mu’tad; Malang KH. Ahmad Dimyati dan KH. Maftuh; lumajang, Habib Idrus bin Ali Baharun; Pasuruan, KH. Hasyim abd Ghafur; Jember, KH. Mansur Soleh dan KH. Musthafa dan di Gresik dikembangkan oleh KH. Mas’an Ansor

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar