Sabtu, 03 Desember 2011

Terjemah Safinatunnajah


buku kecil berjudul “Safinatun
naja’ fima yajibu ‘alal abdi
limaulah” Yang disusun oleh
Syeikh al ‘Alim al Fadhil Salim bin
Sumair al Hadhromi . Saya
temukan dari sumber tertera di
bawah. Semoga manfaat.
ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
(Muqoddimah)
Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang
Segala puji hanya kepada Allah
Tuhan semesta alam, dan
kepadaNya jualah kita memohon
pertolongan atas segala perkara
dunia dan akhirat. Dan shalawat
serta salamNya semoga selalu
tercurah kepada baginda Nabi
Besar Muhammad SAW Penutup
para nabi, juga terhadap
keluarga, sahabat sekalian. Dan
tiada daya upaya kecuali dengan
pertolongan Allah Yang Maha
Tinggi lagi Maha Perkasa.
(BAB I)
“Aqidah”
d(Fasal Satu)
Rukun Islam ada lima perkara,
yaitu:
1. Bersaksi bahwa tiada ada
tuhan yang haq kecuali Allah SWT
dan Nabi Muhammad SAW adalah
utusanNya.
2. Mendirikan sholat (lima waktu)
.
3. Menunaikan zakat.
4. Puasa Romadhan.
5. Ibadah haji ke baitullah bagi
yang telah mampu
melaksanakannya.
(Fasal Dua)
Rukun iman ada enam, yaitu:
1. Beriman kepada Allah SWT.
2. Beriman kepada sekalian
Mala’ikat
3. Beriman dengan segala kitab-
kitab suci.
4. Beriman dengan sekalian
Rosul-rosul.
5. Beriman dengan hari kiamat.
6. Beriman dengan ketentuan
baik dan buruknya dari Allah
SWT.
(Fasal Tiga)
Adapun arti “La ilaha illah”, yaitu:
Tidak ada Tuhan yang berhak
disembah dalam kenyataan
selain Allah.
(BAB II)
“Thoharoh” (Bersuci)
(Fasal Satu)
Adapun tanda-tanda balig
(mencapai usia remaja)
seseorang ada tiga, yaitu:
1. Berumur seorang laki-laki atau
perempuan lima belas tahun.
2. Bermimpi (junub) terhadap
laki-laki dan perempuan ketika
melewati sembilan tahun.
3. Keluar darah haidh sesudah
berumur sembilan tahun .
(Fasal Dua)
Syarat boleh menggunakan batu
untuk beristinja ada delapan,
yaitu:
1. Menggunakan tiga batu.
2. Mensucikan tempat keluar
najis dengan batu tersebut.
3. Najis tersebut tidak kering.
4. Najis tersebut tidak berpindah.
5. Tempat istinja tersebut tidak
terkena benda yang lain
sekalipun tidak najis.
6. Najis tersebut tidak berpindah
tempat istinja (lubang kemaluan
belakang dan kepala kemaluan
depan) .
7. Najis tersebut tidak terkena
air .
8. Batu tersebut suci.
(Fasal Tiga)
Rukun wudhu ada enam, yaitu:
1. Niat.
2. Membasuh muka
3. Membasuh kedua tangan serta
siku.
4. Menyapu sebagian kepala.
5. Membasuh kedua kaki serta
buku lali.
6. Tertib.
(Fasal Empat)
Niat adalah menyengaja suatu
(perbuatan) berbarengan
(bersamaan) dengan
perbuatannya didalam hati.
Adapun mengucapkan niat
tersebut maka hukumnya
sunnah, dan waktunya ketika
pertama membasuh sebagian
muka.
Adapun tertib yang dimaksud
adalah tidak mendahulukan satu
anggota terhadap anggota yag
lain (sebagaimana yang telah
tersebut).
(Fasal Lima)
Air terbagi kepada dua macam;
Air yang sedikit. Dan air yang
banyak.
Adapun air yang sedikit adalah
air yang kurang dari dua qullah .
Dan air yang banyak itu adalah
yang sampai dua qullah atau
lebih.
Air yang sedikit akan menjadi
najis dengan sebab tertimpa
najis kedalamnya, sekalipun
tidak berubah. Adapun air yang
banyak maka tdak akan menjadi
najis kecuali air tersebut telah
berubah warna, rasa atau
baunya.
(Fasal Enam)
Yang mewajibkan mandi ada
enam perkara, yaitu:
1- Memasukkan kemaluan
(kepala dzakar) ke dalam farji
(kemaluan) perempuan.
2- Keluar air mani.
3- Mati.
4- Keluar darah haidh [datang
bulan].
5- Keluar darah nifas [darah
yang keluar setelah melahirkan].
6- Melahirkan.
(Fasal Tujuh)
Fardhu–fardhu (rukun) mandi
yang diwajibkan ada dua
perkara, yaitu:
1- Niat mandi wajib.
2- Menyampaikan air ke seluruh
tubuh dengan sempurna.
(Fasal Delapan)
Syarat– Syarat Wudhu` ada
sepuluh, yaitu:
1- Islam.
2- Tamyiz (cukup umur dan
ber’akal).
3- Suci dari haidh dan nifas.
4- Lepas dari segala hal dan
sesuatu yang bisa menghalang
sampai air ke kulit.
5- Tidak ada sesuatu disalah satu
anggota wudhu` yang merubah
keaslian air.
6- Mengetahui bahwa hukum
wudhu` tersebut adalah wajib.
7- Tidak boleh beri`tiqad
(berkeyakinan) bahwa salah satu
dari fardhu–fardhu wudhu`
hukumnya sunnah (tidak wajib).
8- Kesucian air wudhu` tersebut.
9- Masuk waktu sholat yang
dikerjakan.
10- Muwalat .
Dua syarat terakhir ini khusus
untuk da`im al-hadats .
(Fasal Sembilan)
Yang membatalkan wudhu` ada
empat, yaitu:
1- Apa bila keluar sesuatu dari
salahsatu kemaluan seperti angin
dan lainnya, kecuali air mani.
2- Hilang akal seperti tidur dan
lain lain, kecuali tidur dalam
keadaan duduk rapat bagian
punggung dan pantatnya
dengan tempat duduknya,
sehingga yakin tidak keluar
angin sewaktu tidur tersebut
3- Bersentuhan antara kulit laki–
laki dengan kulit perempuan
yang bukan muhrim baginya
dan tidak ada penghalang antara
dua kulit tersebut seperti kain dll.
”Mahram”: (orang yang haram
dinikahi seperti saudara
kandung).
4- Menyentuh kemaluan orang
lain atau dirinya sendiri atau
menyentuh tempat pelipis dubur
(kerucut sekeliling) dengan
telapak tangan atau telapak
jarinya.
(Fasal Sepuluh)
Larangan bagi orang yang
berhadats kecil ada tiga, yaitu:
1- Shalat, fardhu maupun
sunnah.
2- Thowaaf (keliling ka`bah tujuh
kali).
3- Menyentuh kitab suci Al-
Qur`an atau mengangkatnya.
Larangan bagi orang yang
berhadats besar (junub) ada
lima, yaitu:
1- Sholat.
2- Thowaaf.
3- Menyentuh Al-Qur`an.
4- Membaca Al-Qur`an.
5- I`tikaf (berdiam di masjid).
Larangan bagi perempuan yang
sedang haidh ada sepuluh, yaitu:
1- Sholat.
2- Thowaaf.
3- Menyentuh Al-Qur`an.
4- Membaca Al-Qur`an.
5- Puasa
6- I’tikaf di masjid.
7- Masuk ke dalam masjid
sekalipun hanya untuk sekedar
lewat jika ia takut akan
mengotori masjid tersebut.
8- Cerai, karena itu, di larang
suami menceraikan isterinya
dalam keadaan haidh.
9- Jima`.
10- Bersenang – senang dengan
isteri di antara pusar dan lutut.
(Fasal Sebelas)
Sebab – Sebab yang
membolehkan tayammum ada
tiga hal, yaitu:
1- Tidak ada air untuk
berwudhu`.
2- Ada penyakit yang
mengakibatkan tidak boleh
memakai air.
3- Ada air hanya sekedar
mencukupi kebutuhan minum
manusia atau binatang yang
Muhtaram .
Adapun selain Muhtaram ada
enam macam, yaitu:
 Orang yang meninggalkan
sholat wajib.
 kafir Harbiy (yang boleh di
bunuh).
 Murtad.
 Penzina dalam keadaan Ihshan
(orang yang sudah ber’aqad
nikah yang sah).
 Anjing yang menyalak (tidak
menta`ati pemiliknya atau tidak
boleh dipelihara).
 Babi.
(Fasal Dua Belas)
Syarat–Syarat mengerjakan
tayammum ada sepuluh, yaitu:
1- Bertayammum dengan tanah.
2- Menggunakan tanah yang suci
tidak terkena najis.
3- Tidak pernah di pakai
sebelumnya (untuk tayammaum
yang fardhu).
4- Murni dari campuran yang lain
seperti tepung dan
seumpamanya.
5- Mengqoshod atau
menghendaki (berniat) bahwa
sapuan dengan tanah tersebut
untuk di jadikan tayammum.
6- Masuk waktu shalat fardhu
tersebut, sebelum tayammum.
7- Bertayammum tiap kali sholat
fardhu tiba.
8- Berhati – hati dan bersungguh
– sungguh dalam mencari arah
qiblat sebelum memulai
tayammum.
9- Menyapu muka dan dua
tangannya dengan dua kali
mengusap tanah tayammum
secara masing – masing
(terpisah).
10- Menghilangkan segala najis
di badan terlebih dahulu.
(Fasal Tiga Belas)
Rukun-rukun tayammum ada
lima, yaitu:
1. Memindah debu.
2. Niat.
3. Mengusap wajah.
4. Mengusap kedua belah tangan
sampai siku.
5. Tertib antara dua usapan.
(Fasal Empat Belas)
Perkara yang membatalkan
tayammum ada tiga, yaitu:
1. Semua yang membatalkan
wudhu’.
2. Murtad.
3. Ragu-ragu terdapatnya air,
apabila dia bertayammum
karena tidak ada air.
(Fasal Lima Belas)
Perkara yang menjadi suci dari
yang asalnya najis ada tiga,
yaitu:
0. Khamar (air yang diperah dari
anggur) apabila telah menjadi
cuka.
0. Kulit binatang yang disamak.
0. Semua najis yang telah
berubah menjadi binatang.
(Fasal Enam Belas)
Macam macam najis ada tiga,
yaitu:
1. Najis besar (Mughallazoh),
yaitu Anjing, Babi atau yang lahir
dari salah satunya.
2. Najis ringan (Mukhaffafah),
yaitu air kencing bayi yang tidak
makan, selain susu dari ibunya,
dan umurnya belum sampai dua
tahun.
3. Najis sedang (Mutawassithoh),
yaitu semua najis selain dua
yang diatas.
(Fasal Tujuh Belas)
Cara menyucikan najis-najis:
Najis besar (Mughallazoh),
menyucikannya dengan
membasuh sebanyak tujuh kali,
salah satunya menggunakan
debu, setelah hilang ‘ayin
(benda) yang najis.
Najis ringan (Mukhaffafah),
menyucikannya dengan
memercikkan air secara
menyeluruh dan menghilangkan
‘ayin yang najis.
Najis sedang (Mutawassithoh)
terbagi dua bagian, yaitu:
1. Ainiyyah yaitu najis yang
masih nampak warna, bau, atau
rasanya, maka cara menyucikan
najis ini dengan menghilangkan
sifat najis yang masih ada.
2. Hukmiyyah, yaitu najis yang
tidak nampak warna, bau dan
rasanya, maka cara menyucikan
najis ini cukup dengan
mengalirkan air pada benda
yang terkena najis tersebut.
(Fasal Delapan Belas)
Darah haid yang keluar paling
sedikit sehari semalam, namun
pada umumnya selama enam
atau tujuh hari, dan tidak akan
lebih dari 15 hari. Paling sedikit
masa suci antara dua haid adalah
15 hari, namun pada umumnya
24 atau 23 hari, dan tidak
terbatas untuk masa sucinya.
Paling sedikit masa nifas adalah
sekejap, pada umumnya 40 hari,
dan tidak akan melebihi dari 60
hari.
(BAB III)
“SHALAT”
(Fasal Satu)
Udzur( ) sholat:
4. Tidur .
4. Lupa.
(Fasal Dua)
Syarat sah shalat ada delapan,
yaitu:
1. Suci dari hadats besar dan
kecil.
1. Suci pakaian, badan dan
tempat dari najis.
1. Menutup aurat.
1. Menghadap kiblat.
2. Masuk waktu sholat.
3. Mengetahui rukun-rukan
sholat.
4. Tidak meyakini bahwa
diantara rukun-rukun sholat
adalah sunnahnya
5. Menjauhi semua yang
membatalkan sholat.
Macam-macam hadats: Hadats
ada dua macam, yaitu: Kecil dan
Besar.
Hadats kecil adalah hadats yang
mewajibkan seseorang untuk
berwudhu’, sedangkan hadats
besar adalah hadats yang
mewajibkan seseorang untuk
mandi.
Macam macam aurat: Aurat ada
empat macam, yaitu:
5. Aurat semua laki-laki (merdeka
atau budak) dan budak
perempuan ketika sholat, yaitu
antara pusar dan lutut.
6. Aurat perempuan merdeka
ketika sholat, yaitu seluruh
badan kecuali muka dan telapak
tangan.
6. Aurat perempuan merdeka
dan budak terhadap laki-laki
yang ajnabi (bukan muhrim),
yaitu seluruh badan.
6. Aurat perempuan merdeka
dan budak terhadap laki-laki
muhrimya dan perempuan, yaitu
antara pusar dan lutut.
(Fasal Tiga)
Rukun sholat ada tujuh belas,
yaitu:
1. Niat.
2. Takbirotul ihrom
(mengucapkan “Allahuakbar).
3. Berdiri bagi yang mampu.
4. Membaca fatihah.
5. Ruku’ (membungkukkan
badan).
6. Thuma’ninah (diam sebentar)
waktu ruku’.
7. I’tidal (berdiri setelah ruku’).
8. Thuma’ninah (diam sebentar
waktu i’tidal).
9. Sujud dua kali.
10. Thuma’ninah (diam sebentar
waktu sujud).
11. Duduk diantara dua sujud.
12. Thuma’ninah (diam sebentar
ketika duduk).
13. Tasyahud akhir (membaca
kalimat-kalimat yang tertentu).
14. Duduk diwaktu tasyahud.
15. Sholawat (kepada nabi).
16. Salam (kepada nabi).
17. Tertib (berurutan sesuai
urutannya).
(Fasal Empat)
Niat itu ada tiga derajat, yaitu:
3. Jika sholat yang dikerjakan
fardhu, diwajibkanlah niat
qasdul fi’li (mengerjakan shalat
tersebut), ta’yin (nama sholat
yang dikerjakan) dan fardhiyah
(kefardhuannya).
4. Jika sholat yang dikerjakan
sunnah yang mempunyai waktu
atau mempunyai sebab,
diwajibkanlah niat mengerjakan
sholat tersebut dan nama sholat
yang dikerjakan seperti sunah
Rowatib (sebelum dan sesudah
fardhu-fardhu).
5. Jika sholat yang dikerjakan
sunnah Mutlaq (tanpa sebab),
diwajibkanlah niat mengerjakan
sholat tersebut saja.
Yang dimaksud dengan qasdul
fi’li adalah aku beniat
sembahyang (menyenghajanya),
dan yang dimaksud ta’yin adalah
seperti dzuhur atau asar, adapun
fardhiyah adalah niat fardhu.
(Fasal Lima)
Syarat takbirotul ihrom ada
enam belas, yaitu:
1. Mengucapkan takbirotul ihrom
tersebut ketika berdiri (jika
sholat tersebut fardhu).
2. Mengucapkannya dengan
bahasa Arab.
3. Menggunakan lafal “Allah”.
4. Menggunakan lafal “Akbar”.
5. Berurutan antara dua lafal
tersebut.
6. Tidak memanjangkan huruf
“Hamzah” dari lafal “Allah”.
7. Tidak memanjangkan huruf
“Ba” dari lafal “Akbar”.
8. Tidak mentaysdidkan
(mendobelkan/mengulang)
huruf “Ba” tersebut.
9. Tidak menambah huruf
“Waw” berbaris atau tidak
antara dua kalimat tersebut.
10. Tidak menambah huruf
“Waw” sebelum lafal “Allah”.
11. Tidak berhenti antara dua
kalimat sekalipun sebentar.
12. Mendengarkan dua kalimat
tersebut.
13. Masuk waktu sholat tersebut
jika mempuyai waktu.
14. Mengucapkan takbirotul
ihrom tersebut ketika
menghadap qiblat.
15. Tidak tersalah dalam
mengucapkan salah satu dari
huruf kalimat tersebut.
16. Takbirotul ihrom ma’mum
sesudah takbiratul ihrom dari
imam.
(Fasal Enam)
Syarat-syarat sah membaca surat
al-Fatihah ada sepuluh, yaitu:
1. Tertib (yaitu membaca surat
al-Fatihah sesuai urutan ayatnya)
.
2. Muwalat (yaitu membaca surat
al-Fatihah dengan tanpa
terputus).
3. Memperhatikan makhroj huruf
(tempat keluar huruf) serta
tempat-tempat tasydid.
4. Tidak lama terputus antara
ayat-ayat al-Fatihah ataupun
terputus sebentar dengan niat
memutuskan bacaan.
5. Membaca semua ayat al-
Fatihah.
6. Basmalah termasuk ayat dari
al-fatihah.
7. Tidak menggunakan lahan
(lagu) yang dapat merubah
makna.
8. Memabaca surat al-Fatihah
dalam keaadaan berdiri ketika
sholat fardhu.
9. Mendengar surat al-Fatihah
yang dibaca.
10. Tidak terhalang oleh dzikir
yang lain.
(Fasal Tujuh)
Tempat-tempat tasydid dalam
surah al-fatihah ada empat belas,
yaitu:
1. Tasydid huruf “Lam” jalalah
pada lafal (ﺍﻟﻠﻪ ).
2. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal
((ﺍﻟﺮّﺣﻤﻦ .
3. Tasydid huruf “Ra’” pada lapal
(ﺍﻟﺮّﺣﻴﻢ).
4. Tasydid “Lam” jalalah pada
lafal (ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ).
5. Tasydid huruf “Ba’” pada
kalimat (ﺭﺏّ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ).
6. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal
(ﺍﻟﺮّﺣﻤﻦ ).
7. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal
(ﺍﻟﺮّﺣﻴﻢ).
8. Tasydid huruf “Dal” pada lafal
(ﺍﻟﺪّﻳﻦ ).
9. Tasydid huruf “Ya’” pada
kalimatﺇﻳّﺎﻙ ﻧﻌﺒﺪ) ).
10. Tasydid huruf “Ya” pada
kalimat (ﻭﺇﻳّﺎﻙ ﻧﺴﺘﻌﻴﻦ ).
11. Tasydid huruf “Shad” pada
kalimat (ﺍﻫﺪﻧﺎ ﺍﻟﺼّﺮﺍﻁ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ).
12. Tasydid huruf “Lam” pada
kalimat (ﺻﺮﺍﻁ ﺍﻟّﺬﻳﻦ ).
13. Tasydid “Dhad” pada kalimat
(ﻭﻻ ﺍﻟﻀﺎﻟﻴﻦ).
14. Tasydid huruf “Lam” pada
kalimat (ﻭﻻ ﺍﻟﻀﺎﻟﻴﻦ).
(Fasal Delapan)
Tempat disunatkan mengangkat
tangan ketika shalat ada empat,
yaitu:
1. Ketika takbiratul ihram.
2. Ketika Ruku’.
3. Ketika bangkit dari
Ruku’ (I’tidal).
4. Ketika bangkit dari tashahud
awal.
(Fasal Sembilan)
Syarat sah sujud ada tujuh, yaitu:
1. Sujud dengan tujuh anggota.
2. Dahi terbuka (jangan ada yang
menutupi dahi).
3. Menekan sekedar berat kepala.
4. Tidak ada maksud lain kecuali
sujud.
5. Tidak sujud ketempat yang
bergerak jika ia bergerak.
6. Meninggikan bagian
punggung dan merendahkan
bagian kepala.
7. Thuma’ninah pada sujud.
Penutup: Ketika seseorang sujud
anggota tubuh yang wajib di
letakkan di tempat sujud ada
tujuh, yaitu:
1. Dahi.
2. Bagian dalam dari telapak
tangan kanan.
3. Bagian dalam dari telapak
tangan kiri.
4. Lutut kaki yang kanan.
5. Lutut kaki yang kiri.
6. Bagian dalam jari-jari kanan.
7. Bagian dalam jari-jari kiri.
(Fasal Sepuluh)
Dalam kalimat tasyahud terdapat
dua puluh satu harakah (baris)
tasydid, enam belas di antaranya
terletak di kalimat tasyahud yang
wajib di baca, dan lima yang
tersisa dalam kalimat yang
menyempurnakan tasyahud
(yang sunah dibaca), yaitu:
1. “Attahiyyat”: harakah tasydid
terletak di huruf “Ta’”.
2. “Attahiyyat”: harakah tasydid
terletak di huruf “Ya’”.
3. “Almubarakatusshalawat”:
harakah tasydid di huruf “Shad”.
4. “Atthayyibaat”: harakah
tasydid di huruf “Tha’”.
5. “Atthayyibaat”: harakah
tasydid di huruf “ya’”.
6. “Lillaah”: harakah tasydid di
“Lam” jalalah.
7. “Assalaam”: di huruf “Sin”.
8. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di
huruf “Ya’”.
9. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di
huruf “Nun”.
10. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di
huruf “Ya’”.
11. “Warohmatullaah”: di “Lam”
jalalah.
12. “Wabarakatuh, assalaam”: di
huruf “Sin”.
13. “Alainaa wa’alaa I’baadillah”:
di “Lam” jalalah.
14. “Asshalihiin”: di huruf shad.
15. “Asyhaduallaa”: di “Lam alif”.
16. “Ilaha Illallaah”: di “Lam alif”.
17. “Illallaah”: di “Lam” jalalah.
18. “Waasyhaduanna”: di huruf
“Nun”.
19. “Muhammadarrasulullaah”: di
huruf “Mim”.
20. “Muhammadarrasulullaah”: di
huruf “Ra’”.
21. “Muhammadarrasulullaah”: di
huruf “Lam” jalalah.
(Fasal Sebelas)
Sekurang-kurang kalimat
shalawat nabi yang memenuhi
standar kewajiban di tasyahud
akhir adalah Allaahumma shalli
a’laa Muhammad.
(Adapun).harakat tasydid yang
ada di kalimat shalawat nabi
tersebut ada di huruf “Lam” dan
“Mim” di lafal “Allahumma”. Dan
di huruf “Lam” di lafal “Shalli”.
Dan di huruf “Mim” di
Muhammad.
(Fasal Dua Belas)
Sekurang-kurang salam yang
memenuhi standar kewajiban di
tasyahud akhir adalah
Assalaamu’alaikum. Adpun
Harakat tasydid yang ada di
kalimat tersebut terletak di huruf
“Sin”.
(Fasal Tiga Belas)
Waktu waktu shalat.
1. Waktu shalat dzuhur:
Dimulai dari tergelincirnya
matahari dari tengah-tengah
langit kearah barat dan berakhir
ketika bayangan suatu benda
menyamai ukuran panjangnya
dengan benda tersebut.
2. Waktu salat Ashar:
Dimulai ketika bayangan dari
suatu benda melebihi ukuran
panjang dari benda tersebut dan
berakhir ketika matahari
terbenam.
3. Waktu shalat Magrib:
Berawal ketika matahari
terbenam dan berakhir dengan
hilangnya sinar merah yang
muncul setelah matahari
terbenam.
4. Waktu shalat Isya
Diawali dengan hilangnya sinar
merah yang muncul setelah
matahari terbenam dan berakhir
dengan terbitnya fajar shadiq.
Yang di maksud dengan Fajar
shadiq adalah sinar yang
membentang dari arah timur
membentuk garis horizontal dari
selatan ke utara.
5 Waktu shalat Shubuh:
Di mulai dari timbulnya fajar
shadiq dan berakhir dengan
terbitnya matahari.
Warna sinar matahari yang
muncul setelah matahari
terbenam ada tiga, yaitu:
Sinar merah, kuning dan putih.
Sinar merah muncul ketika
magrib sedangkan sinar kuning
dan putih muncul di waktu Isya.
Disunnahkan untuk menunda
atau mangakhirkan shalat Isya
sampai hilangnya sinar kuning
dan putih.
(Fasal Empat Belas)
Shalat itu haram manakala tidak
ada mempunyai sebab terdahulu
atau sebab yang bersamaan
(maksudnya tanpa ada sebab
sama sekaliseperti sunat mutlaq)
dalam beberapa waktu, yaitu:
1. Ketika terbit matahari sampai
naik sekira-kira sama dengan
ukuran tongkat atau tombak.
2. Ketika matahari berada tepat
ditengah tengah langit sampai
bergeser kecuali hari Jum’at.
3. Ketika matahari kemerah-
merahan sampai tenggelam.
4. Sesudah shalat Shubuh sampai
terbit matahari.
5. Sesudah shalat Asar sampai
matahari terbenam.
(Fasal Lima Belas)
Tempat saktah (berhenti dari
membaca) pada waktu shalat
ada enam tempat, yaitu:
1. Antara takbiratul ihram dan
do’a iftitah (doa pembuka
sesudah takbiratul ihram).
2. Antara doa iftitah dan
ta’awudz (mengucapkan
perlindungan dengan Allah SWT
dari setan yang terkutuk).
3. Antara ta’awudz dan membaca
fatihah.
4. Antara akhir fatihah dan
ta’min (mengucapkan amin).
5. Antara ta’min dan membaca
surat (qur’an).
6. Antara membaca surat dan
ruku’.
Semua tersebut dengan kadar
tasbih (bacaan subhanallah),
kecuali antara ta’min dan
membaca surat, disunahkan bagi
imam memanjangkan saktah
dengan kadar membaca fatihah.
(Fasal Enam Belas)
Rukun-rukun yang diwajibkan
didalamnya tuma’ninah ada
empat, yaitu:
1. Ketika ruku’.
2. Ketika i’tidal.
3. Ketika sujud.
4. Ketika duduk antara dua sujud.
Tuma’ninah adalah diam sesudah
gerakan sebelumnya, sekira-kira
semua anggota badan tetap
(tidak bergerak) dengan kadar
tasbih (membaca subhanallah).
(Fasal Tujuh Belas)
Sebab sujud sahwi ada empat,
yaitu:
1. Meninggalkan sebagian dari
ab’adhus shalat (pekerjaan
sunnah dalam shalat yang buruk
jika seseorang meniggalkannya).
2. Mengerjakan sesuatu yang
membatalkan (padahal ia lupa),
jika dikerjakan dengan sengaja
dan tidak membatalkan jika ia
lupa.
3. Memindahkan rukun qauli
(yang diucapkan) kebukan
tempatnya.
4. Mengerjakan rukun Fi’li (yang
diperbuat) dengan kemungkinan
kelebihan.
(Fasal Delapan Belas)
Ab’adusshalah ada enam, yaitu:
1. Tasyahud awal
2. Duduk tasyahud awal.
3. Shalawat untuk nabi
Muhammad SAW ketika tasyahud
awal.
4. Shalawat untuk keluarga nabi
ketika tasyahud akhir.
5. Do’a qunut.
6. Berdiri untuk do’a qunut.
7. Shalawat dan Salam untuk nabi
Muhammad SAW, keluarga dan
sahabat ketika do’a qunut.
(Fasal Sembilan Belas)
Perkara yang membatalkan
shalat ada empat belas, yaitu:
1. Berhadats (seperti kencing
dan buang air besar).
2. Terkena najis, jika tidak
dihilangkan seketika, tanpa
dipegang atau diangkat (dengan
tangan atau selainnya).
3. Terbuka aurat, jika tidak
dihilangkan seketikas.
4. Mengucapkan dua huruf atau
satu huruf yang dapat difaham.
5. Mengerjakan sesuatu yang
membatalkan puasa dengn
sengaja.
6. Makan yang banyak sekalipun
lupa.
7. Bergerak dengan tiga gerakan
berturut-turut sekalipun lupa.
8. Melompat yang luas.
9. Memukul yang keras.
10. Menambah rukun fi’li dengan
sengaja.
11. Mendahului imam dengan
dua rukun fi’li dengan sengaja.
12. Terlambat denga dua rukun
fi’li tanpa udzur.
13. Niat yang membatalkan
shalat.
14. Mensyaratkan berhenti shalat
dengan sesuatu dan ragu dalam
memberhentikannya.
(Fasal Dua Puluh)
Diwajibkan bagi seorang imam
berniat menjadi imam terdapat
dalam empat shalat, yaitu:
1- Menjadi Imam juma`t
2- Menjadi imam dalam shalat
i`aadah (mengulangi shalat).
3- Menjadi imam shalat nazar
berjama`ah
4- Menjadi imam shalat jamak
taqdim sebab hujan
(Fasal Dua Puluh Satu)
Syarat – Syarat ma`mum
mengikut imam ada sebelas
perkara, yaitu:
1- Tidak mengetahui batal nya
shalat imam dengan sebab
hadats atau yang lain nya.
2- Tidak meyakinkan bahwa
imam wajib mengqadha` shalat
tersebut.
3- Seorang imam tidak menjadi
ma`mum .
4- Seorang imam tidak ummi
(harus baik bacaanya).
5- Ma`mum tidak melebihi
tempat berdiri imam.
6- Harus mengetahui gerak gerik
perpindahan perbuatan shalat
imam.
7- Berada dalam satu masjid
(tempat) atau berada dalam jarak
kurang lebih tiga ratus hasta.
8- Ma`mum berniat mengikut
imam atau niat jama`ah.
9- Shalat imam dan ma`mum
harus sama cara dan kaifiyatnya
10- Ma`mum tidak menyelahi
imam dalam perbuata sunnah
yang sangat berlainan atau
berbeda sekali.
11- Ma`mum harus mengikuti
perbuatan imam.
(Fasal Dua Puluh Dua)
Ada lima golongan orang–orang
yang sah dalam berjamaah,
yaitu:
1- Laki –laki mengikut laki – laki.
2- Perempuan mengikut laki –
laki.
3- Banci mengikut laki – laki.
4- Perempuan mengikut banci.
5- Perempuan mengikut
perempuan.
(Fasal Dua Puluh Tiga)
Ada empat golongan orang –
orang yang tidak sah dalam
berjamaah, yaitu:
1- Laki – laki mengikut
perempuan.
2- Laki – laki mengikut banci.
3- Banci mengikut perempuan.
4- Banci mengikut banci.
(Fasal Dua Puluh Empat)
Ada empat, syarat sah jamak
taqdim (mengabung dua shalat
diwaktu yang pertama), yaitu:
1- Di mulai dari shalat yang
pertama.
2- Niat jamak (mengumpulkan
dua shalat sekali gus).
3- Berturut – turut.
4- Udzurnya terus menerus.
(Fasal Dua Puluh Lima)
Ada dua syarat jamak takhir,
yaitu:
1- Niat ta’khir (pada waktu shalat
pertama walaupun masih tersisa
waktunya sekedar lamanya
waktu mengerjakan shalat
tersebut).
2- Udzurnya terus menerus
sampai selesai waktu shalat
kedua.
(Fasal Dua Puluh Enam)
Ada tujuh syarat qasar, yaitu:
1- Jauh perjalanan dengan dua
marhalah atau lebih (80,640 km
atau perjalanan sehari semalam).
2- Perjalanan yang di lakukan
adalah safar mubah (bukan
perlayaran yang didasari niat
mengerja maksiat ).
3- Mengetahui hukum kebolehan
qasar.
4- Niat qasar ketika takbiratul
`ihram.
5- Shalat yang di qasar adalah
shalat ruba`iyah (tidak kurang
dari empat rak`aat).
6- Perjalanan terus menerus
sampai selesai shalat tersebut.
7- Tidak mengikuti dengan
orang yang itmam (shalat yang
tidak di qasar) dalam sebagian
shalat nya.
(Fasal Dua Puluh Tujuh)
Syarat sah shalat Jum’at ada
enam, yaitu:
1. Khutbah dan shalat Jum’at
dilaksanakan pada waktu
Dzuhur.
2. Kegiatan Jum’at tersebut
dilakukan dalam batas desa.
3. Dilaksanakan secara
berjamaah.
4. Jamaah Jum’at minimal
berjumlah empat puluh (40) laki-
laki merdeka, balig dan
penduduk asli daerah tersebut.
5. Dilaksanakan secara tertib,
yaitu dengan khutbah terlebih
dahulu, disusul dengan shalat
Jum’at.
(Fasal Dua Puluh Delapan)
Rukun khutbah Jum’at ada lima,
yaitu:
1. Mengucapkan “ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ”
dalam dua khutbah tersebut.
2. Bershalawat kepada Nabi
Muhammad SAW dalam dua
khutbah tersebut.
3. Berwasiat ketaqwaan kepada
jamaah Jum’at dalam dua
khutbah Jum’at tersebut.
4. Membaca ayat al-qur’an dalam
salah satu khutbah.
5. Mendo’akan seluruh umat
muslim pada akhir khutbah.
(Fasal Dua Puluh Sembilan)
Syarat sah khutbah jum’at ada
sepuluh, yaitu:
1. Bersih dari hadats kecil
(seperti kencing) dan besar
seperti junub.
2. Pakaian, badan dan tempat
bersih dari segala najis.
3. Menutup aurat.
4. Khutbah disampaikan dengan
berdiri bagi yang mampu.
5. Kedua khutbah dipisahkan
dengan duduk ringan seperti
tuma’ninah dalam shalat
ditambah beberapa detik.
6. Kedua khutbah dilaksanakan
dengan berurutan (tidak
diselangi dengan kegiatan yang
lain, kecuali duduk).
7. Khutbah dan sholat Jum’at
dilaksanakan secara berurutan.
8. Kedua khutbah disampaikan
dengan bahasa Arab.
9. Khutbah Jum’at didengarkan
oleh 40 laki-laki merdeka, balig
serta penduduk asli daerah
tersebut.
10. Khutbah Jum’at dilaksanakan
dalam waktu Dzuhur.
(BAB IV)
“jenazah”
(Fasal Satu)
pertama: Kewajiban muslim
terhadap saudaranya yang
meninggal dunia ada empat
perkara, yaitu:
1. Memandikan.
2. Mengkafani.
3. Menshalatkan (sholat jenazah).
4. Memakamkan .
(Fasal Kedua)
Cara memandikan seorang
muslim yang meninggal dunia:
Minimal (paling sedikit):
membasahi seluruh badannya
dengan air dan bisa
disempurnakan dengan
membasuh qubul dan duburnya,
membersihkan hidungnya dari
kotoran, mewudhukannya,
memandikannya sambil diurut/
digosok dengan air daun sidr
dan menyiramnya tiga (3) kali.
(Fasal Ketiga)
Cara mengkafan:
Minimal: dengan sehelai kain
yang menutupi seluruh badan.
Adapun cara yang sempurna
bagi laki-laki: menutup seluruh
badannya dengan tiga helai kain,
sedangkan untuk wanita yaitu
dengan baju, khimar (penutup
kepala), sarung dan 2 helai kain.
(Fasal Keempat)
Rukun shalat jenazah ada tujuh
(7), yaitu:
1. Niat.
2. Empat kali takbir.
3. Berdiri bagi orang yang
mampu.
4. Membaca Surat Al-Fatihah.
5. Membaca shalawat atas Nabi
SAW sesudah takbir yang kedua.
6. Do’a untuk si mayat sesudah
takbir yang ketiga.
7. Salam.
(Fasal Kelima)
Sekurang-kurang menanam
(mengubur) mayat adalah dalam
lubang yang menutup bau
mayat dan menjaganya dari
binatang buas. Yang lebih
sempurna adalah setinggi orang
dan luasnya, serta diletakkan
pipinya di atas tanah. Dan wajib
menghadapkannya ke arah
qiblat.
(Fasal Keenam)
Mayat boleh digali kembali,
karena ada salah satu dari empat
perkara, yaitu:
1. Untuk dimandikan apabila
belum berubah bentuk.
2. Untuk menghadapkannya ke
arah qiblat.
3. Untuk mengambil harta yang
tertanam bersama mayat.
4. Wanita yang janinnya
tertanam bersamanya dan ada
kemungkinan janin tersebut
masih hidup.
(Fasal Ketujuh)
Hukum isti’anah (minta bantuan
orang lain dalam bersuci) ada
empat (4) perkara, yaitu:
1. Boleh.
2. Khilaf Aula.
3. Makruh
4. Wajib.
 Boleh (mubah) meminta untuk
mendekatkan air.
 Khilaf aula meminta
menuangkan air atas orang yang
berwudlu.
 Makruh meminta menuangkan
air bagi orang yang membasuh
anggota-anggota (wudhu) nya.
 Wajib meminta menuangkan air
bagi orang yang sakit ketika ia
lemah (tidak mampu untuk
melakukannya sendiri).
(BAB V)
“zakat”
(Fasal Satu)
Harta yang wajib di keluarkan
zakatnya ada enam macam,
yaitu:
1. Binatang ternak.
2. Emas dan perak.
3. Biji-bijian (yang menjadi
makanan pokok).
4. Harta perniagaan. Zakatnya
yang wajib di keluarkan adalah
4/10 dari harta tersebut.
5. Harta yang tertkubur.
6. Hasil tambang.
(BAB VI)
“Puasa”
(Fasal Satu)
Puasa Ramadhan diwajibkan
dengan salah satu ketentuan-
ketentuan berikut ini:
1. Dengan mencukupkan bulan
sya’ban 30 hari.
2. Dengan melihat bulan, bagi
yang melihatnya sendiri.
3. Dengan melihat bulan yang
disaksikan oleh seorang yang
adil di muka hakim.
4. Dengan Kabar dari seseorang
yang adil riwayatnya juga
dipercaya kebenarannya, baik
yang mendengar kabar tersebut
membenarkan ataupun tidak,
atau tidak dipercaya akan tetapi
orang yang mendengar
membenarkannya.
5. Dengan beijtihad masuknya
bulan Ramadhan bagi orang
yang meragukan dengan hal
tersebut.
(Fasal Kedua)
Syarat sah puasa ramadhan ada
empat (4) perkara, yaitu:
1. Islam.
2. Berakal.
3. Suci dari seumpama darah
haidh.
4. Dalam waktu yang
diperbolehkan untuk berpuasa.
(Fasal Ketiga)
Syarat wajib puasa ramadhan
ada lima perkara, yaitu:
1. Islam.
2. Taklif (dibebankan untuk
berpuasa).
3. Kuat berpuasa.
4. Sehat.
5. Iqamah (tidak bepergian).
(Fasal Keempat)
Rukun puasa ramadhan ada tiga
perkara, yaitu:
1. Niat pada malamnya, yaitu
setiap malam selama bulan
Ramadhan.
2. Menahan diri dari segala yang
membatalkan puasa ketika masih
dalam keadaan ingat, bisa
memilih (tidak ada paksaan) dan
tidak bodoh yang ma’zur
(dima’afkan).
3. Orang yang berpuasa.
(Fasal Kelima)
Diwajibkan: mengqhadha puasa,
kafarat besar dan teguran
terhadap orang yang
membatalkan puasanya di bulan
Ramadhan satu hari penuh
dengan sebab menjima’ lagi
berdosa sebabnya .
Dan wajib serta qhadha:
menahan makan dan minum
ketika batal puasanya pada
enam tempat:
1. Dalam bulan Ramadhan bukan
selainnya, terhadap orang yang
sengaja membatalkannya.
2. Terhadap orang yang
meninggalkan niat pada malam
hari untuk puasa yang Fardhu.
3. Terhadap orang yang
bersahur karena menyangka
masih malam, kemudian
diketahui bahwa Fajar telah
terbit.
4. Terhadap orang yang berbuka
karena menduga Matahari sudah
tenggelam, kemudian diketahui
bahwa Matahari belum
tenggelam.
5. Terhadap orang yang
meyakini bahwa hari tersebut
akhir Sya’ban tanggal tigapuluh,
kemudian diketahui bahwa awal
Ramadhan telah tiba.
6. Terhadap orang yang terlanjur
meminum air dari kumur-kumur
atau dari air yang dimasukkan
ke hidung.
(Fasal Keenam)
Batal puasa seseorang dengan
beberapa macam, yaitu:
- Sebab-sebab murtad.
- Haidh.
- Nifas.
- Melahirkan.
- Gila sekalipun sebentar.
- Pingsan dan mabuk yang
sengaja jika terjadi yang
tersebut di siang hari pada
umumnya.
(Fasal Ketujuh)
Membatalkan puasa di siang
Ramadhan terbagi empat
macam, yaitu:
1. Diwajibkan, sebagaimana
terhadap wanita yang haid atau
nifas.
2. Diharuskan, sebagaimana
orang yang berlayar dan orang
yang sakit.
3. Tidak diwajibkan, tidak
diharuskan, sebagaimana orang
yang gila.
4. Diharamkan (ditegah),
sebagaimana orang yang
menunda qhadha Ramadhan,
padahal mungkin dikerjakan
sampai waktu qhadha tersebut
tidak mencukupi.
Kemudian terbagi orang-orang
yang telah batal puasanya
kepada empat bagian, yaitu:
1. Orang yang diwajibkan
qhadha dan fidyah, seperti
perempuan yang membatalkan
puasanya karena takut terhadap
orang lain saperti bayinya. Dan
seperti orang yang menunda
qhadha puasanya sampai tiba
Ramadhan berikutnya.
2. Orang yang diwajibkan
mengqhadha tanpa membayar
fidyah, seperti orang yang
pingsan.
3. Orang yang diwajibkan
terhadapnya fidyah tanpa
mengqhadha, seperti orang
yang sangat tua yang tidak
kuasa.
4. Orang yang tidak diwajibkan
mengqhadha dan membayar
fidyah, seperti orang gila yang
tidak disengaja.
(Fasal Kedelapan)
Perkara-perkara yang tidak
membatalkan puasa sesudah
sampai ke rongga mulut ada
tujuh macam, yaitu:
1. Ketika kemasukan sesuatu
seperti makanan ke rongga
mulut denga lupa
2. Atau tidak tahu hukumnya .
3. Atau dipaksa orang lain.
4. Ketika kemasukan sesuatu ke
dalam rongga mulut, sebab air
liur yang mengalir diantara gigi-
giginya, sedangkan ia tidak
mungkin mengeluarkannya.
5. Ketika kemasukan debu
jalanan ke dalam rongga mulut.
6. Ketika kemasukan sesuatu dari
ayakan tepung ke dalam rongga
mulut.
7. Ketika kemasukan lalat yang
sedang terbang ke dalam rongga
mulut.
Tamat… Wa Allah a’lam bishawab
Kemudian kami akhiri dengan
meminta kepada Tuhan Yang
Karim , dengan berkah beginda
kita Nabi Muhammad SAW yang
wasim , supaya mengakhiri
hidupku dengan memeluk
agama Islam, juga orang tuaku,
orang yang aku sayangi dan
semua keturunanku. Dan mudah-
mudahan ia mengampuniku
serta mereka segala kesalahan
dan dosa.
Semoga rahmat Tuhan selalu
tercurah keharibaan junjungan
kita Nabi Muhammad bin
Abdullah bin Abdul Muttalib bin
Abdi Manaf bin Hasyim yang
menjadi utusan Tuhan kepada
sekalian makhluk rasulul
malahim , kekasih Tuhan yang
membuka pintu rahmat,
menutup pintu kenabian, serta
keluarga dan sahabat sekalian,
walhamdu lillahi rabbil a’lamin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar