Kamis, 01 Desember 2011

MENGENAL THORIQOH



THORIQOH adalah jalan / metode implementasi syariat. atau cara yang ditempuh oleh seseorang dalam menjalankan syariat Islam sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah Swt. Jadi orang yang berthariqah adalah orang yang melaksanakan hukum Syariat, atau Syariah itu hukum dan Thariqah itu pelaksanaan dari hukum itu sendiri.
Thariqah ada 2 (dua) macam :
1. Thariqah ‘Aam : yaitu melaksanakan hukum Islam seperti yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya, yaitu melaksanakan semua perintah, menjauhi semua larangan agama Islam dan berbagai ketentuan hukum lainnya sebatas pengetahuan dan kemampuannya tanpa ada bimbingan khusus dari mursyid / muqaddam.
2. Thariqah Khas : Yaitu melaksanakan hukum Syariat Islam melalui bimbingan lahir dan batin dari seorang Syeikh ( Mursyid / Muqaddam ). Bimbingan lahir dengan menjelaskan secara intensif tentang hukum-hukum Islam dan cara pelaksanaan yang benar. Sedangkan bimbingan batin adalah tarbiyah rohani dari sang Mursyid dengan izin bai’at khusus yang sanadnya sampai kepada Rasulullah Saw. Thariqah Khas ini lebih dikenal dengan nama Thariqah Sufiyah / Thariqah Auliya’. Thariqah Sufiyah yang memiliki izin dan sanad langsung sampai kepada Rasulullah itu berjumlah 360 Thariqah. Dalam riwayat lain mengatakan 313 thariqah. Sedang yang masuk ke Indonesia dan direkomendasikan oleh Nahdlatul Ulama’ berjumlah 44 Thariqah, dikenal dengan Thariqah Mu’tabaroh An-Nahdliyah dengan wadah organisasi yang bernama Jam’iyah Ahlut Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah. Dalam kitab Mizanul Qubro yang dikarang oleh Imam Asy Sya’rany ada sebuah hadits yang menyatakan :
اِنَّ شَرِيْعَتـِيْ جَا ئَتْ عَلَى ثَلاَثـِمِا ئَةٍ وَسِتِّيْنَ طَرِيْقَةً. مَا سَلَكَ اَحَدَ طَرِيْقَةٍ مِنْهاَ اِلاَّ نـَجَا. ( الـميزان الكبرى للامام الشعرني 30 )
Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqah, siapapun yang menempuh salah satunya pasti selamat”. (Mizan Al Qubra: 1 / 30 )
Dalam riwayat hadits yang lain dinyatakan bahwa :
اِنَّ شَرِيْعَتـِيْ جَائَتْ عَلىَ ثَلاَثـمِاِئَةٍ وَثَلاَثَ عَشَرَةَ طَرِيْقَةً. لاَ تَلَّقَى اْلعَبْدُ بِهَا رَبَّنُاَ اِلاَّ دَخَلَ اْلـجَنَّةَ ( رواه الطبرني )
Sesungguhnya syariatku datang membawa 313 thariqah, tiap hamba yang menemui (mendekatkan diri pada) Allah dengan salah satunya, pasti masuk surga”. (HR. Thabrani)
Terlepas dari perbedaan redaksi dan jumlah thariqah pada kedua riwayat hadits diatas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus percaya akan adanya thariqah sebagaimana direkomendasi oleh hadits tersebut. Kalau tidak percaya berarti tidak percaya dengan salah satu hadits Nabi SAW yang al Amiin (terpercaya dan tidak pernah bohong). Lalu bagaimana hukumnya tidak percaya pada Hadits Nabi yang shahiih?
Dari semua thariqah sufiyah yang ada dalam Islam, pada perinsip pengamalannya terbagi menjadi dua macam. Yaitu thariqah Mujahadah dan thariqah Mahabbah. Thariqah mujahadah adalah metode pendekatan kepada Allah SWT dengan mengandalkan kesungguhan dalam beribadah, sehingga melalui kesungguhan beribadah tersebut diharap kan secara bertahap seorang hamba akan mampu menapaki jenjang demi jenjang (maqamat) untuk mencapai derajat kedekatan disisi Allah SWT dengan sedekat dekatnya. Sebagian besar thariqah adalah thariqah mujahadah.
Sedangkan thariqah mahabbah adalah thariqah yang mengandalkan rasa syukur dan cinta, bukan banyaknya amalan yang menjadi kewajiban utama. Dalam perjalanan nya menuju hadirat Allah SWT seorang hamba memperba nyak ibadah atas dasar cinta dan syukur akan limpahan rahmat dan nikmat Allah SWT, tidak ada target maqamat dalam mengamalkan kewajiban dan berbagai amalan sunnah dalam hal ini. Tapi dengan melaksanakan ibadah secara ikhlash tanpa memikirkan pahala, baik pahala dunia maupun pahala ahirat, kerinduan si hamba yang penuh cinta pada Allah akan terobati. Yang terpenting dalam thariqah mahabbah bukan kedudukan / jabatan disisi Allah. tapi menjadi kekasih yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT. Habibullah ( kekasih Allah ) adalah kedudukan Nabi kita Muhammad SAW. Dan satu satunya thariqah yang menggu nakan metode mahabbah adalah Thariqah Tijany.
Nama-nama thariqah yang masuk ke Indonesia dan telah diteliti oleh para Ulama NU yang tergabung dalam Jam’iyyah Ahluth Thariqah Mu’tabarah An-Nahdliyah dan dinyatakan Mu’tabaroh antara lain :
Umariyah
Naqsyabandiyah
Qadiriyah
Syadziliyah
Rifaiyah
Sahrowardiyah
Ahmadiyah
Dasuqiyah
Akbariyah
Kubrawiyyah
Jusfiyyah
Buhuriyyah
Maulawiyah
Khalwatiyah
Kalsaniyyah
Syathariyah
Jalwatiyah
Sa’baniyyah
Idrusiyah
Ghaibiyyah
Bakdasiyah
Matbuliyyah
‘Alawiyah
Haddadiyah
Ghazaliyah
Usysyaqiyyah
Bairumiyah
Isawiyah
Rumiyah
Bayumiyyah
Hamzaniyyah
Zainiyah
Sa’diyah
Utsmaniyah
Bakriyah
Abbasiyah
Subbuliyyah
Akabirul Auliya’
Malamiyyah
Khodiriyah
Uwaisiyyah
Sammaniyah
Idrisiyah
Tijaniyah
Diambil dari buku hasil keputusan Kongres & Mubes Jam’iyah Ahli Thariqah Mu’tabaroh An Nahdliyah halaman 25, pada hasil Mu’tamar kedua di Pekalongan tanggal 8 Jumadil Ula 1379 H / 9 November 1959.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar