Selasa, 03 Januari 2012

Manusia dan Penyempurnaan Dirinya


Manusia dan Penyempurnaan Dirinya


Secara tegas Allah menyatakan bahwa manusia merupakan puncak ciptaan-Nya dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan-Nya yang prima dibanding makhluk lainnya (QS. 95:4). Namun begitu Allah juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya, masih belum selesai atau setengah jadi, sehingga masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya (QS. 91:7-10). Proses penyempurnaan ini amat dimungkinkan karena pada naturnya manusia itu fithri, hanif dan berakal. Lebih dari itu bagi seorang mukmin petunjuk primordial ini masih ditambah lagi dengan datangnya Rasul Tuhan pembawa kitab suci sebagai petunjuk hidupnya (QS. 4:174).

Di dalam tradisi kaum sufi terdapat postulat yang berbunyi: Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu --Siapa yang telah mengenal dirinya maka ia (akan mudah) mengenal Tuhannya. Jadi, pengenalan diri adalah tangga yang harus dilewati seseorang untuk mendaki ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mengenal Tuhan. Persoalan serius yang menghadang adalah, sebagaimana diakui kalangan psikolog, filsuf, dan ahli pikir pada umumnya, kini manusia semakin mendapatkan kesulitan untuk mengenali jati diri dan hakikat kemanusiaannya.

Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu pengetahuan dan berkembangnya differensiasi dalam profesi kehidupan maka protret atau konsep tentang realitas manusia semakin terpecah meniadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit dihadirkan secara utuh. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, biologi, kedokteran, politik, ekonomi, antropologi, teologi dan lainnya semuanya menjadikan manusia sebagai obyek kajian materialnya, tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. Differensiasi metodologis setiap ilmu, meskipun obyek materialnya sama-sama manusia, akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. Demikianlah manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengundang kegelisahan intelektual pare ahli pikir untuk mencoba berlomba menjawabnya. Semakin seorang ahli pikir mendalami satu sudut kajian tentang manusia, semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki, yang berarti semakin terputus dari pemahaman komprehensif tentang manusia. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan, misalnya, oleh Ernst Cassirer, katanya: Nietzsche proclaims the will to power, Freud signalizes the sexual instinct, Marx enthrones the economic instinct. Each theory becomes a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. Owing to this development our modern theory of man lost its intellectual center. We acquired instead a complete anarchy of thought. (Ernst Cassier, 1978, p. 21)

Krisis pengenalan diri sesungguhnya tidak hanya dirasakan kalangan ahli pikir Barat modern, melainkan juga di kalangan Islam. Terjadinya ideologisasi terhadap ilmu-ilmu agama, secara sadar atau tidak, telah menghantarkan pada persepsi yang terpecah dalam melihat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. Dalam tradisi ilmu fiqih misalnya, secara tak langsung ilmu ini cenderung menghadirkan wajah Tuhan sebagai Yang Maha Hakim, sementara manusia adalah subyek-subyek yang cenderung membangkang dan harus siap menerima vonis-vonis dari kemurkaan Tuhan Sang Maha Hakim atau, sebaliknya, manusia pada akhirnya akan menuntut imbalan pahala atas ketaatannya melaksanakan dekrit-Nya.

Demikianlah, bila ilmu fiqih cenderung mengenalkan Tuhan sebagai Maha Hakim, maka ilmu kalam lebih menggarisbawahi gambaran Tuhan sebagai Maha Akal, sementara ilmu tasawuf memproyeksikan Tuhan sebagai Sang Kekasih.

Perbedaan-perbedaan ini muncul dalam benak manusia karena pada dasarnya yang bertuhan adalah manusia, di mana manusia itu lahir, tumbuh dan berkembang dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dijumpai dalam realitas sejarah hidupnya. Jadi, bila langkah pertama untuk mengenal Tuhan adalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu secara benar, maka langkah pertama yang harus kita tempuh ialah bagaimana mengenal diri kita secara benar.

Meskipun Cassirer secara gamblang menunjukkan krisis pengenalan diri, secara sederhana kita bisa membedakan dua paradigma pemahaman terhadap manusia, yaitu paradigma materialisme - atheistik dan spiritualisme - theistik. Yang pertama berkeyakinan pada teori bahwa semua realitas materi (downward causation), sebaliknya yang kedua berkeyakinan bahwa dunia materi ini hakikatnya berasal dari realitas yang bersifat imateri (upward causation).

Bagi mereka yang berpandangan atau terbiasa dengan metode berpikir empirisme-materialistik akan sulit diajak untuk menghayati makna penyempurnaan kualitas insani sebagaimana yang lazim diyakini di kalangan pare sufi. Kritik terhadap aliran materialisme akhir-akhir ini semakin gencar, dan akan mudah dijumpai pada berbagai bidang studi keilmuan Barat kontemporer dengan dalih, antara lain, faham ini telah mereduksi keagungan manusia yang dinyatakan Tuhan sebagai moral and religious being.

Ralph Ross, misalnya, memberikan contoh yang amat sederhana tetapi gamblang betapa miskinnya penganut materialisme dalam memahami kehidupan yang penuh nuansa ini. Progressive reductionism works as follows. An art object is only mass and light waves; an act of love only chemiphysical, only electrical charges; therefore, the art object or act of love is only a flow of electricity. (Ralph ross, 1962, hal. 8).

Pandangan yang begitu dangkal tentang manusia secara tegas dikritik oleh al-Qur'an. Menurut doktrin al-Qur'an, manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk melaksanakan 'blueprint'-Nya membangun bayang-bayang surga di bumi ini (QS. 2:3). Lebih dari itu dalam tradisi sufi terdapat keyakinan yang begitu populer bahwa manusia sengaja diciptakan Tuhan karena dengan penciptaan itu Tuhan akan melihat dan menampakkan kebesaran diri-Nya.

Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi 'arafu-ni --Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku.

Terlepas apakah riwayatnya sahih ataukah lemah, pada umumnya orang sufi menerima hadits tersebut, namun dengan beberapa penafsiran yang berbeda. Meski demikian, mereka cenderung sepakat bahwa manusia adalah microcosmos yang memiliki sifat-sifat yang menyerupai Tuhan dan paling potensial mendekati Tuhan (Bandingkan QS. 41:53). Dalam QS. 15:29, misalnya, Allah menyatakan bahwa dalam diri manusia memang terdapat unsur Ilahi yang dalam al-Qur'an beristilah "min ruhi. "Pendek kata, realitas manusia memiliki jenjang-jenjang dan mata rantai eksistensi. Bila diurut dari bawah unsurnya ialah minerality, vegetality, animality, dan humanity.

Dari jenjang pertama sampai ke tiga aktivitas dan daya jangkau manusia masih berada dalam lingkup dunia materi dan dunia materi selalu menghadirkan polaritas atau fragmentasi yang saling berlawanan (the primordial pair). Dalam konteks inilah yang dimaksud bahwa realitas yang kita tangkap tentang dunia materi adalah realitas yang terpecah berkeping-keping. Makin berkembang ilmu pengetahuan, makin bertambah kepingan gambaran realitas dunia, dan makin jauh pula manusia untuk mampu mengenal dirinya secara utuh. Seperti dikemukakan Carel Alexis bahwa man has gained the mistery of the material world before knowing himself.

Dalam kaitan definisi, tradisi tasawuf belum mempunyai definisi tunggal, namun para sarjana muslim sepakat bahwa inti tasawuf adalah ajaran yang menyatakan bahwa hakekat keluhuran nilai seseorang bukanlah terletak pada wujud fisiknya melainkan pada kesucian dan kemuliaan hatinya, sehingga ia bisa sedekat mungkin dengan Tuhan yang Maha Suci. Ajaran spiritualitas seperti ini tidak hanya terdapat pada Islam melainkan pada agama lain, bahkan dalam tradisi pemikiran filsafat akan mudah pula dijumpai. Dari kenyataan ini maka tidak terlalu salah bila ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya potensi dan kecenderungan kehidupan batin manusia ke arah kehidupan mistik bersifat natural dan universal. Pendeknya, pada nurani manusia yang terdapat dalam cahaya suci yang senantiasa ingin menatap Yang Maha Cahaya (Tuhan) karena dalam kontak dan kedekatan antara nurani dan Tuhan itulah muncul kedamaian dan kebahagiaan yang paling prima. Kalangan sufi yakin, dahaga dan kerinduan mendekati Tuhan ini bukanlah hasil rekayasa pendidikan (kultur) melainkan merupakan natur manusia yang paling dalam, yang pertumbuhannya sering terhalangi oleh pertumbuhan dan naluri jiwa nabati dan hewani yang melekat pada manusia. Dengan kiasan lain, roh Ilahi yang bersifat imateri dan berperan sebagai "sopir" bagi kendaraan "jasad" kita ini seringkali lupa diri sehingga ia kehilangan otonominya sebagai master. Bila hal ini terjadi maka terjadilah kerancuan standar nilai. "Keakuan" orang bukan lagi difokuskan pada kesucian jiwa tetapi pada prestasi akumulasi dan konsumsi materi. Artinya, jiwa yang tadinya duduk dan memerintah dariatassinggasana "imateri"dengan sifat-sifatnya yang mulia seperti: cinta kasih, penuh damai, senang kesucian, selalu ingin dekat kepada Yang Maha Suci dan Abstrak, lalu turunlah tahtanya ke level yang lebih rendah, yaitu dataran: minerality, vegetality, dan animality.

Jadi, tujuan utama ajaran tasawuf adalah membantu seseorang bagaimana caranya seseorang bisa memelihara dan meningkatkan kesucian jiwanya sehingga dengan begitu ia merasa damai dan juga kembali ke tempat asal muasalnya dengan damai pula (QS. 89:27).

Secara garis besar tahapan seorang mukmin untuk meningkatkan kualitas jiwanya terdiri dari tiga maqam. Pertama, dzikir atau ta'alluq pada Tuhan. Yaitu, berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah. Di manapun seorang mukmin berada, dia tidak boleh lepas dari berfikir dan berdzikir untuk Tuhannya (QS. 3:191). Dari dzikir ini meningkat sampai maqam kedua -takhalluq. Yaitu, secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. Proses ini bisa juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadits Nabi yang berbunyi, "Takhallaqu bi akhlaq-i Allah. "

Maqam ketiga tahaqquq. Yaitu, suatu kemampuan untuk mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas dirinya sebagai seorang mukmin yang dirinya sudah "didominasi" sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia. Maqam tahaqquq ini sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa bagi seorang mukmin yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya dengan Tuhan maka Tuhan akan melihat kedekatan hamba-Nya.

Dalam tradisi tasawuf yang menjadi fokus kajiannya ialah apa yang disebut gaib atau hati dalam pengertiannya yang metafisis. Beberapa ayat al-Qur'an dan Hadits menegaskan bahwa hati seseorang bagaikan raja, sementara badan dan anggotanya bagai istana dan para abdi dalem-nya. Kebaikan dan kejahatan kerajaan itu akan tergantung bagaimana perilaku sang raja.

Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa meskipun secara fisik hati itu kecil dan mengambil tempat pada jasad manusia, namun luasnya hati Insan Kamil (qalb al-'arif) melebihi luasnya langit dan bumi karena ia sanggup menerima 'arsy Tuhan, sementara bumi langit tidak sanggup. Menurut Ibn 'Arabi, kata qalb senantiasa berasosiasi dengan kata taqallub yang bergerak atau berubah secara konstan. Taqallub-nya hati sang sufi, kata 'Arabi, adalah seiring dengan tajalli-nya Tuhan. Tajalli berarti penampakan diri Tuhan ke dalam makhluk-Nya dalam pengertian metafisik. Dan dari sekian makhluk Tuhan, hanya hati seorang Insan Kamil-lah yang paling mampu menangkap lalu memancarkan tajalli-Nya dalam perilaku kemanusiaan (Fushushul Hikam, XII; Hossein Nasr, 1977, p. 138). Dalam konteks inilah, menurut Ibn 'Arabi, yang dimaksudkan dengan ungkapan siapa yang mengetahui jiwanya, ia akan mengetahui Tuhannya karena manusia adalah "microcosmos" atau jagad cilik dimana 'arsy Tuhan berada di situ, tetapi Tuhan bukan pengertian huwiyah-Nya atau "ke-Dia-annya" yang Maha Absolut dan Maha Esa, melainkan Tuhan dalam sifat-Nya yang Dhahir, bukannya Yang Bathin.

KHALIFAH ALLAH: MANUSIA SUCI NAN PERKASA

Bila upaya penyucian jiwa merupakan inti tasawuf, dan itu dilakukan dalam upaya mendekati dan menggapai kasih Tuhan, maka tasawuf bisa dikatakan sebagai inti keberagaman dan karenanya setiap muslim semestinya berusaha untuk menjadi sufi.

Pandangan semacam itu tentu saja kurang populer dan sulit diterima oleh kalangan terdekat. Namun begitu, bukankah cukup tegas isyarat al-Qur'an maupun Hadits yang menyatakan bahwa kewajiban setiap muslim adalah mensucikan jiwanya sehingga kesuciannya termanifestasikan dalam perilaku insaniyahnya?

Melalui tahapan ta'alluq, takhalluq, dan tahaqquq, maka seorang mukmin akan mencapai derajat khalifah Allah dengan kapasitasnya yang perkasa tetapi sekaligus penuh kasih dan damai. Seorang 'abd-u 'l-Lah (budak Allah) yang saleh adalah sekaligus juga wakil-Nya untuk membangun bayang-bayang surga di muka bumi ini. Bukankah Allah punya blue-print dan proyek untuk memakmurkan bumi, dan bukankah hamba-hamba-Nya yang saleh telah dinyatakan sebagai mandataris-Nya? Jadi, secara karikatural, seorang sufi kontemporer adalah mereka yang tidak asing berdzikir dan berfikir tentang Tuhan sekalipun di hotel mewah dan datang dengan kendaraan yang mewah pula.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Arabi, Ibn, Fushush al-Hikam (The Bezels of Wisdom), New York, 1980.
Afifi, AE. The Mystical Philosophy of Muhyi al-Din Ibnul 'Arabi, Lahore, 1938
Cassirer, Ernst. , An Essay on Man, London, 1978.
Izutsu, Toshihiko, The Concept of Perpetual Creation in Islamic Mysticism and Zen Buddhism, Teheran, 1977.
Massiggnon, Louis. , The Passion of al-Hallaj, Jilid II dan III, Princeton, 1982.
Nasution, Prof. Dr. Harun, Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam, 1973
Ross, Raiph. , Symbols and Civilization, New York, 1962.
Schimmel, Annemarie, Dimensi Mistik Dalam Islam, Jakarta, 1976.
Valiuddin, Dr. Mir. , The Qur'anic Sufism, Lahore, 1978

Sufi dan Muridnya


Sufi dan Muridnya
Bayazid juga adalah pengajar tasawuf. Di antara jamaahnya, ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak. Santri itu juga menjadi kyai bagi jamaahnya sendiri. Karena telah memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang menunjukkan kesalihannya, seperti baju putih, serban, dan wewangian tertentu.
Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Bayazid, "Tuan Guru, saya sudah beribadat tiga puluh tahun lamanya. Saya shalat setiap malam dan puasa setiap hari, tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman ruhani yang Tuan Guru ceritakan. Saya tak pernah saksikan apa pun yang Tuan gambarkan."
Bayazid menjawab, "Sekiranya kau beribadat selama tiga ratus tahun pun, kau takkan mencapai satu butir pun debu mukasyafah dalam hidupmu.". Murid itu heran, "Mengapa, ya Tuan Guru?". "Karena kau tertutup oleh dirimu," jawab Bayazid. "Bisakah kau obati aku agar hijab itu tersingkap?" pinta sang murid. "Bisa," ucap Bayazid, "tapi kau takkan melakukannya.". "Tentu saja akan aku lakukan," sanggah murid itu.
"Baiklah kalau begitu," kata Bayazid, "sekarang tanggalkan pakaianmu. Sebagai gantinya, pakailah baju yang lusuh, sobek, dan compang-camping. Gantungkan di lehermu kantung berisi kacang. Pergilah kau ke pasar, kumpulkan sebanyak mungkin anak-anak kecil di sana. Katakan pada mereka, "Hai anak-anak, barangsiapa di antara kalian yang mau menampar aku satu kali, aku beri satu kantung kacang." Lalu datangilah tempat di mana jamaah kamu sering mengagumimu. Katakan juga pada mereka, "Siapa yang mau menampar mukaku, aku beri satu kantung kacang!"
"Subhanallah, masya Allah, lailahailallah," kata murid itu terkejut. Bayazid berkata, "Jika kalimat-kalimat suci itu diucapkan oleh orang kafir, ia berubah menjadi mukmin. Tapi kalau kalimat itu diucapkan oleh seorang sepertimu, kau berubah dari mukmin menjadi kafir.". Murid itu keheranan, "Mengapa bisa begitu?"
Bayazid menjawab, "Karena kelihatannya kau sedang memuji Allah, padahal sebenarnya kau sedang memuji dirimu. Ketika kau katakan: Tuhan mahasuci, seakan-akan kau mensucikan Tuhan padahal kau menonjolkan kesucian dirimu.". "Kalau begitu," murid itu kembali meminta, "berilah saya nasihat lain.". Bayazid menjawab, "Bukankah aku sudah bilang, kau takkan mampu melakukannya!"
Cerita ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Bayazid mengajarkan bahwa orang yang sering beribadat mudah terkena penyakit ujub dan takabur. "Hati-hatilah kalian dengan ujub," pesan Iblis.
Dahulu, Iblis beribadat ribuan tahun kepada Allah. Tetapi karena takaburnya terhadap Adam, Tuhan menjatuhkan Iblis ke derajat yang serendah-rendahnya. Takabur dapat terjadi karena amal atau kedudukan kita. Kita sering merasa menjadi orang yang penting dan mulia. Bayazid menyuruh kita menjadi orang hina agar ego dan keinginan kita untuk menonjol dan dihormati segera hancur, yang tersisa adalah perasaan tawadhu dan kerendah-hatian. Hanya dengan itu kita bisa mencapai hadirat Allah swt.
Orang-orang yang suka mengaji juga dapat jatuh kepada ujub. Mereka merasa telah memiliki ilmu yang banyak. Suatu hari, seseorang datang kepada Nabi saw, "Ya Rasulallah, aku rasa aku telah banyak mengetahui syariat Islam. Apakah ada hal lain yang dapat kupegang teguh?" Nabi menjawab, :"Katakanlah: Tuhanku Allah, kemudian ber-istiqamah-lah kamu."
Ujub seringkali terjadi di kalangan orang yang banyak beribadat. Orang sering merasa ibadat yang ia lakukan sudah lebih dari cukup sehingga ia menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan. Ia menganggap ibadat sebagai investasi. Orang yang gemar beribadat cenderung jatuh pada perasaan tinggi diri. Ibadat dijadikan cara untuk meningkatkan statusnya di tengah masyarakat. Orang itu akan amat tersinggung bila tidak diberikan tempat yang memadai statusnya. Sebagai seorang ahli ibadat, ia ingin disambut dalam setiap majelis dan diberi tempat duduk yang paling utama.
Tulisan ini saya tutup dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya; Suatu hari, di depan Rasulullah saw Abu Bakar menceritakan seorang sahabat yang amat rajin ibadatnya. Ketekunannya menakjubkan semua orang. Tapi Rasulullah tak memberikan komentar apa-apa. Para sahabat keheranan. Mereka bertanya-tanya, mengapa Nabi tak menyuruh sahabat yang lain agar mengikuti sahabat ahli ibadat itu. Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu lewat di hadapan majelis Nabi. Ia kemudian duduk di tempat itu tanpa mengucapkan salam. Abu Bakar berkata kepada Nabi, "Itulah orang yang tadi kita bicarakan, ya Rasulallah." Nabi hanya berkata, "Aku lihat ada bekas sentuhan setan di wajahnya."
Nabi lalu mendekati orang itu dan bertanya, "Bukankah kalau kamu datang di satu majelis kamu merasa bahwa kamulah orang yang paling salih di majelis itu?" Sahabat yang ditanya menjawab, "Allahumma, na'am. Ya Allah, memang begitulah aku." Orang itu lalu pergi meninggalkan majelis Nabi. Setelah itu Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, "Siapa di antara kalian yang mau membunuh orang itu?" "Aku," jawab Abu Bakar. Abu Bakar lalu pergi tapi tak berapa lama ia kembali lagi, "Ya Rasulallah, bagaimana mungkin aku membunuhnya? Ia sedang ruku'."
Nabi tetap bertanya, "Siapa yang mau membunuh orang itu?" Umar bin Khaththab menjawab, "Aku." Tapi seperti juga Abu Bakar, ia kembali tanpa membunuh orang itu, "Bagaimana mungkin aku bunuh orang yang sedang bersujud dan meratakan dahinya di atas tanah?" Nabi masih bertanya, "Siapa yang akan membunuh orang itu?" Imam Ali bangkit, "Aku." Ia lalu keluar dengan membawa pedang dan kembali dengan pedang yang masih bersih, tidak berlumuran darah, "Ia telah pergi, ya Rasulullah." Nabi kemudian bersabda, "Sekiranya engkau bunuh dia. Umatku takkan pecah sepeninggalku…."
Dari kisah ini pun kita dapat mengambil hikmah. Selama di tengah-tengah kita masih terdapat orang yang merasa dirinya paling salih, paling berilmu, dan paling benar dalam pendapatnya, pastilah terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin. Nabi memberikan pelajaran bagi umatnya bahwa perasaan ujub akan amal salih yang dimiliki adalah penyebab perpecahan di tengah orang Islam. Ujub menjadi penghalang naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Penawarnya hanya satu, belajarlah menghinakan diri kita. Seperti yang dinasihatkan Bayazid Al-Busthami kepada santrinya.

Zainab binti Muhammaddul


Zainab binti Muhammad

ZAINAB DAN KALUNG PENEBUS SUAMINYA.
Ketika Zainab menikah dengan Abil Ash bin Rabi’, Khadijah ibunya menghadiahi seuntai kalung. Tapi, kali ini ia harus rela melepaskan kalung itu untuk menebus suaminya yang menjadi tawanan perang kaum muslimin dalam perang Badar. Suatu hal yang sangat dilematis, suami Zainab menjadi tawanan di pihak Muhammad Rasu­lullah, ayahnya sendiri.
Karena didorong kesetiaannya kepada suami, Zainab mengirim kalung itu kepada Rasulullah untuk membebaskan. sang suami yang menjadi tawanan perang. Itulah kesetiaan seorang isteri tercinta.
Nama lengkapnya adalah Zainab Al-Kubra binti Mu­hammad Rasulullah. Anak hasil pernikahan dengan Khadi­jah. Suaminya adalah Abil Ash bin Rabi’, putera bibinya. Seorang lelaki mulia dengan kekayaan harta yang melim­pah. Seorang asli Quraisy yang nasabnya dari pihak ayah bertemu dengan Rasulullah pada Abu Manaf bin Qushay. Dari pihak ibu, bertemu nasab dengan Zainab binti Muham­mad pada sang kakek, Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay.
Halah binti Khuwailid (ibu Abil Ash), adalah saudara perempuan Khadijah binti Khuwailid. Dan Khadijah inilah yang memelihara Abil Ash seperti anak kandung sendiri sehingga diizinkan keluar masuk rumah Rasulullah seperti ru­mah sendiri.
Karena itu, sejak kecil ia bergaul dengan Zainab puteri Rasulullah seperti saudara kandung sendiri. Zainab sangat senang mendengar cerita perjalanannya dan cerita lain yang menarik. Suatu hari Abil Ash meminang Zainab, dan diterima oleh Rasulullah maupun Khadijah. Sejak itu Zainab tinggal di rumah suaminya, hidup bahagia sampai dikaruniai dua anak. Yakni Ali dan Umamah.
Ketika Khadijah pertama kali mengakui kerasulan Mu­hammad setelah menerima wahyu pertama di gua Hira’, maka kemudian disusul pula oleh puteri-puteri Nabi yang mulia. Yakni Zainab, Ruqayah, Umi Kultsum, dan Fatimah. Mereka memeluk Islam.
Begitu Abil Ash kembali dari perjalanan niaganya, Zainab menceritakan tentang kerasulan Muhammad ayahnya dengan risalah Islam yang dibawanya. Sebagai seorang isteri, ia berharap agar suaminya ikut mengakui kerasulan Muhammad yang mertuanya sendiri. Tapi, Abil Ash menanggapinya dengan dingin.
Sekali lagi Zainab meyakinkan suaminya, agar mengikuti jejak Khadijah bibinya, Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Ali bin Abi Thalib. Kepada isterinya, Abil Ash malah menjawab: “Demi Tuhan, ayahmu bukanlah seorang yang tertuduh. Tetapi aku tidak ingin di­katakan bahwa aku meninggalkan kaumku, dan menjadi kafir mengingkari agama nenek moyangku hanya demi menyenangkan isteri.” Bisa dibayangkan, betapa sakit hati Zainab.
Dilematis.
Saat itu datanglah cobaan dari Allah kepada Muham­mad, para sahabat, dan kaum muslimin lainnya. Orang Quraisy mengepung Bani Hasyim pimpinan Rasulullah. Mereka memutuskan hubungan dan mengusirnya ke Syi’ib Abi Thalib. Selama tiga tahun Muhammad dan pengikutnya terisolasi dan menderita karena embargo ekonomi orang Quraisy.
Untuk menyelamatkan diri, Rasulullah dan para sa­habatnya terpaksa hijrah ke Madinah, yang kemudian di­terima oleh kaum Anshar. Menyusul kemudian pecah perang terbuka pertama antara kaum muslimin dengan orang Quraisy, yang kemudian dikenal dengan perang Badar. Tragisnya, perang itu terjadi di saat Zainab binti Mu­hammad tinggal di Makkah bersama suaminya. Ia berada dalam posisi yang dilematis. Di satu pihak terdapat ayah dan ibunya, tapi di pihak lain yang menjadi lawan ayahnya terdapat Abil Ash suaminya tercinta. Ayah dari dua orang anaknya yang bernama Ali dan Umamah.
Zainab sangat gembira menerima khabar kemenangan berada di pihak ayahnya, meski pengikutnya relatif jauh le­bih kecil dibandingkan kaum musyrikin. Tapi ia juga merasa susah suaminya di pihak yang kalah, sampai kemudian menjadi tawanan perang pasukan Islam. Untuk membe­baskan suaminya, ia menyuruh Amr bin Rabi’ saudaranya membawa kalung penebus kepada Rasulullah.
Menerima penyerahan kalung itu, Rasulullah tertegun. Bukankah kalung itu kalung Khadijah isterinya yang di­hadiahkan kepada Zainab dalam pesta perkawinannya. Se­jenak Rasulullah tak bisa berucap. Kenangannya melayang pada almarhum isteri tercinta Khadijah, dan puteri tunggal­nya Zainab yang berada di Makkah. Dengan suara berat karena rasa ibanya, Rasulullah berkata kepada para sahabat: “Jika kalian tidak keberatan melepaskan tawanan itu dan mengembalikan tebusannya, maka aku yang akan melakukannya.” Dengan patuh para sahabat menjawab: “Baiklah, ya Rasulullah.”
Berkat usaha Zainab, Abil Ash dibebaskan dari tawanan perang, dan kembali ke Makkah menemui isteri serta kedua orang anaknya yang merindukan kehadirannya. Sementara Zainab menyambutnya dengan gembira. Tapi, ia dikejutkan oleh perintah Rasulullah kepada Abil Ash, supaya ia men­ceraikan Zainab. Alasannya, isteri sudah memeluk agama Is­lam, sedangkan suami tetap bertahan kepada kemusyrikan. Pernikahan seperti itu adalah haram.
Sebagai isteri yang sangat mencintai keutuhan rumah tangga, Zainab selalu berupaya membujuk suaminya agar masuk Islam dan ikut hijrah ke Madinah. Tapi sang suami ti­dak berubah dari pendiriannya. Dengan berat hati Zainab menerima keputusan Allah dan takdir-Nya, menyusul ke Madinah.
Kepergian Zainab ke Madinah bukanlah perjalanan yang mulus. Orang-orang Quraisy selalu menterornya. Ketika Zainab berada di punggung unta, akan berangkat pergi ke Madinah, Hubar bin Aswad Al-Asadi menusuk pe­rut unta dengan lembing, hingga Zainab terlempar jatuh mengeluarkan darah. Janinnya telah gugur di atas gurun pasir. Tapi ketabahan dan kemantapan hatinya yang dilandasi rasa iman serta Islam, membuat keberaniannya se­makin membara, hingga tetap mantap hijrah ke Madinah.
Berpisahlah ibu itu dengan suami dan kedua orang anaknya.
Datang Menyusul.
Ketika pulang dari perjalanan niaga, Abil Ash terbirit-­birit dari kejaran sekelompok pasukan muslim. Karena ter­desak, larilah ia menyelamatkan diri ke Madinah, dan meminta perlindungan kepada Zainab isterinya. Sebagai is­teri yang sangat mencintai suami, Zainab pun melindung­inya.
Ketika Rasulullah bersama para sahabat berada di mas­jid, Zainab berseru: “Wahai orang-orang, aku telah melin­dungi Abil Ash bin Rabi`.” Mendengar seruan itu Rasulullah menyahut: “Kami telah melindungi orang yang dilindungi.”
Rasulullah lantas keluar dari masjid, pergi menuju ru­mah Zainab untuk menemui menantunya. Berkatalah Zainab kepada ayahnya: “Ya Rasulullah, sesungguhnya jika Abil Ash ini dianggap keluarga dekat, ia masih putera paman. Jika dianggap jauh, ia bapak dari anakku, dan aku telah melindunginya.”
Keluar dari rumah Zainab, lalu Rasulullah mendatangi para anggota pasukannya, kemudian bersabda; “Sesung­guhnya Abil Ash adalah kelurga kami. Sebagaimana kalian ketahui, bahwa kalian telah mendapatkan hartanya. Jika ka­lian berbuat baik dan mengembalikan harta itu, aku lebih menyukainya. Jika kalian menolak, maka itu adalah harta rampasan perang yang dianugerahkan Allah kepada kalian, dan kalian lebih berhak atas harta itu.” Jawab mereka: “Ya Rasulullah, kami akan mengembalikan harta itu.”
Bukan saja jiwa Abil Ash yang diselamatkan. Tapi, har­tanya pun dikembalikan kepadanya. Itu semua berkat jasa Zainab isterinya, lewat tangan Rasulullah ayahnya. Keluarga yang pernah berpisah enam tahun lamanya itu akhirnya kembali bersatu dalam satu atap rumah tangga bersama anak-anak mereka. Suami kini tinggal dalam satu atap, satu iman dan satu perjuangan dalam Islam.
Sayangnya, suasana bahagia itu tidak berlangsung lama. Zainab meninggal mendahului suaminya, setahun setelah kembali berkumpul dalam satu atap rumah tangga dengan suaminya.

Khaulah binti Azwar


Khaulah binti Azwar

PRAJURIT BERTOPENG DI MEDAN
PERANG
Perang tengah berkecamuk. Pasukan Islam yang dipimpin Khalid bin Walid si pedang Allahdengan gigih menyerbu Ajnadin dari Palestina. Pasukan Romawi pimpi­nan Teodore dari sisi utara Syam menghalangi Pasukan Arab.
Dhirar, pahlawan yang dikenal keberaniaannya sehebat seribu prajurit itu mengalami nasib malang. Dhirar yang ke­turunan raja dan penguasa itu tertawan Pasukan Romawi, hingga membuat marah panglima Khalid bin Walid. Ia me­merintahkan pasukannya untuk membebaskan Dhirar yang menjadi komandan pasukan dengan jalan apapun.
Pasukan kaum muslimin terus menyerbu, dan terjadilah pertempuran yang lebih dahsyat. Pasukan Romawi disibuk­kan oleh seorang prajurit Islam bertopeng yang bertempur mati-matian, hingga berhasil menewaskan beberapa prajurit Romawi. Prajurit bertopeng itu bertempur dengan gagah berani.
Panglima Khalid sendiri menjadi heran, siapa gerangan prajurit bertopeng yang bertempur habis-habisan itu. Ketika ditanyai namanya, prajurit bertopeng itu mengelak, tetapi Khalid terus mendesak. Barulah prajurit bertopeng itu men­jelaskan.
Wahai panglima, aku tidak menghindar darimu kecuali hanya karena rasa malu terhadapmu. Anda seorang panglima besar, sedang aku hanya seorang wanita bercadar. Tetapi aku terpaksa melakukan hal ini, karena hatiku sakit dan marah. Aku adalah Khaulah binti Azwar. Aku sedang bersama wanita kaumku, kemudian datang seseorang yang memberi kabar bahwa saudara kandungku Dhirar ter­tawan. Maka aku pun kemudian menaiki kuda dan mela­kukan apa yang anda lihat sekarang ini.”
Hati Khalid bin Walid menjadi sedih bercampur heran, hingga mengapa sampai seorang wanita keluar ikut berjihad dengan gigihnya untuk menyelamatkan tawanan perang.
Sejak saat itu, Khalid bin Walid selaku panglima perang bersumpah untuk menyelamatkan Dhirar. Dipersiapkanlah sekali lagi tentara kaum muslimin untuk mendesak pasukan Romawi. Peperangan pun berkecamuk lagi, hingga pada akhirnya kemenangan berada di pihak pasukan kaum muslimin. Dan Dhirar bin Azwar berhasil dibebaskan dari ta­wanan pasukan Romawi.
Demikianlah, dalam sejarah perjuangan Islam memang sering dijumpai srikandi-srikandiIslam yang gemilang bertempur bersama prajurit laki-laki. Mereka berada di be­lakang pasukan melayani keperluan para pasukan yang ber­laga di medan laga. Jika ada prajurit yang luka, merekalah yang merawatnya. Khaulah binti Azwar adalah salah satu di antara kaum wanita yang ikut dalam perang Ajnadin ke Syam di zaman pemerintahan Abu Bakar, di bawah pim­pinan panglima Khalid bin Walid.
Khaulah hidup sampai pada zaman pemerintahan Ustman bin Affan, dan menyaksikan langsung berbagai peris­tiwa dan bencana yang menimpa kaum muslimin. Ke­gigihannya dalam medan perang seringkali menimbulkan kekaguman, sebagaimana yang telah ditunjukkannya pada saat bertopeng menghancurkan pasukan Romawi.
Tiang-tiang Kemah
Masih ingatkah kepada Khansa’ yang mengikhlaskan empat puteranya tewas bersama dalam perang Qadisiyah? Atau masih ingatkah kepada Shafiah binti Abdul-Muthalib bibi Rasulullah ketika mengambil tiang-tiang kemah dan memukulkannya kepada orang Yahudi yang berkeliling di sekitar pingitannya sebagai mata-mata lalu membunuhnya? Hal itulah yang mengilhami keberanian Khaulah binti Azwar memimpin kaum wanita yang bersamanya mengam­bil tiang-tiang kemah, kemudian memukulkannya ke atas kepala-kepala pasukan Romawi.
Peristiwa itu terjadi dalam pertempuran antara pasukan kaum muslimin dengan tentara Romawi di Maraj Dabiq. Sekali lagi, Khaulah berangkat ke medan perang karena kehi­langan Dhirar saudara kandungnya karena ditawan musuh. Kesedihannya dilantunkan pada sebuah syair dan tangisan, yang kemudian mendorong semangat pasukan Islam me­nuntut balas terhadap pasukan Romawi untuk membebas­kan Dhirar.
Beberapa wanita yang suaminya tertawan seperti Dhi­rar ikut memberi semangat agar pasukan Islam lebih berani menyerbu benteng pertahanan musuh. Pasukan muslimin berhasil menyerbu daerah utara Syam dan mengepung An­tarkia. Beberapa tawanan berhasil dibebaskan, termasuk di dalamnya Dhirar. Ironisnya, kini gantian Khaulah binti Azwar menjadi tawanan tentara Romawi bersama beberapa wanita lainnya. Dalam tawanan pasukan Romawi, Khaulah pantang menyerah pasrah. Kepada teman-temannya ia ber­seru, “Hai puteri-puteri Himsyar sisa-sisa keturunan Tubba’, apakah kalian rela menjadi tawanan Romawi, dan anak-­anak kalian menjadi budak mereka? Lebih baik kita mati daripada menjadi tawanan yang hina dan melayani Romawi keparat!”
Dengan semangatnya yang pantang menyerah, Khau­lah mengomando teman-teman tawanan wanita mengambil tiang-tiang kemah. Dengan tiang-tiang itu mereka melawan pasukan Romawi dengan memukul kepala mereka. Berkat keberaniannya, mereka berhasil bebas dari tawanan musuh.
Karena besarnya rasa cinta Khaulah kepada saudara lelakinya, hingga ia sampai nekad menerjang ke gelanggang perang dengan topengnya melawan pasukan Romawi. Ke­cemburuannya terhadap kehormatan wanita Arab yang muslimah membuat Khaulah dan kaum tawanan wanita la­innya nekad melawan pasukan Romawi, dan akhirnya men­dapat keberhasilan yang gemilang. Itulah Srikandi Islam yang bukan hanya terdapat dalam dongengan. Khaulah binti Azwar, adalah wanita teladan yang hadir dalam alam kenyataan. Tampil dinamis dalam menjunjung tinggi kali­mah Allah.

Rabiah al-Adawiyah


Rabiah al-Adawiyah

Pada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah al-Adawiyah al-Bashriyah dan bertanya, “Saya ini telah banyak melakukan dosa. Maksiat saya bertimbun melebihi gunung-gunung. Andaikata saya bertobat, apakah Allah akan menerima tobat saya?” “Tidak,” jawab Rabiah dengan suara tegas. Pada kali yang lain seorang lelaki datang pula kepadanya. Lelaki itu berkata, “Seandainya tiap butir pasir itu adalah dosa, maka seluas gurunlah tebaran dosa saya. Maksiat apa saja telah saya lakukan, baik yang kecil maupun yang besar. Tetapi sekarang saya sudah menjalani tobat. Apakah Tuhan menerima tobat saya?” “Pasti,” jawab Rabiah tak kalah tegas. Lalu ia menjelaskan, “Kalau Tuhan tidak berkenan menerima tobat seorang hamba, apakah mungkin hamba itu tergerak menjalani tobat? Untuk berhenti dari dosa, jangan simpan kata “akan” atau “andaikata” sebab hal itu akan merusak ketulusan niatmu.”
Memang ucapan sufi perempuan dari kota Bashrah itu seringkali menyakitkan telinga bagi mereka yang tidak memahami jalan pikirannya. Ia bahkan pernah mengatakan, “Apa gunanya meminta ampun kepada Tuhan kalau tidak sungguh-sungguh dan tidak keluar dari hati nurani?” Barangkali lantaran ia telah mengalami kepahitan hidup sejak awal kehadirannya di dunia ini. Sebagai anak keempat. Itu sebabnya ia diberi nama Rabiah. Bayi itu dilahirkan ketika orang tuanya hidup sangat sengsara meskipun waktu itu kota Bashrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak seorang pun yang berada di samping ibunya, apalagi menolongnya, karena ayahnya, Ismail, tengah berusaha meminta bantuan kepada para tetangganya.
Namun, karena saat itu sudah jauh malam, tidak seorang pun dari mereka yang terjaga. Dengan lunglai Ismail pulang tanpa hasil, padahal ia hanya ingin meminjam lampu atau minyak tanah untuk menerangi istrinya yang akan melahirkan. Dengan perasaan putus asa Ismail masuk ke dalam biliknya. Tiba-tiba matanya terbelak gembira menyaksikan apa yang terjadi di bilik itu.
Seberkas cahaya memancar dari bayi yang baru saja dilahirkan tanpa bantuan siapa-siapa. “Ya Allah,” seru Ismail, “anakku, Rabiah, telah datang membawa sinar yang akan menerangi alam di sekitarnya.” Lalu Ismail menggumam, “Amin.” Tetapi berkas cahaya yang membungkus bayi kecil itu tidak membuat keluarganya terlepas dari belitan kemiskinan. Ismail tetap tidak punya apa-apa kecuali tiga kerat roti untuk istrinya yang masih lemah itu. Ia lantas bersujud dalam salat tahajud yang panjang, menyerahkan nasib dirinya dan seluruh keluarganya kepada Yang Menciptakan Kehidupan.
Sekonyong-konyong ia seolah berada dalam lautan mimpi manakala gumpalan cahaya yang lebih benderang muncul di depannya, dan setelah itu Rasul hadir bagaikan masih segar-bugar. Kepada Ismail, Rasulullah bersabda, “Jangan bersedih, orang salih. Anakmu kelak akan dicari syafaatnya oleh orang-orang mulia. Pergilah kamu kepada penguasa kota Bashrah, dan katakan kepadanya bahwa pada malam Jumat yang lalu ia tidak melakukan salat sunnah seperti biasanya. Katakan, sebagai kifarat atas kelalaiannya itu, ia harus membayar satu dinar untuk satu rakaat yang ditinggalkannya.
Ketika Ismail mengerjakan seperti yang diperintahkan Rasulullah dalam mimpinya, Isa Zadan, penguasa kota Bashrah itu, terperanjat. Ia memang biasa mengerjakan salat sunnah 100 rakaat tiap malam, sedangkan saban malam Jumat ia selalu mengerjakan 400 rakaat. Oleh karena itu, kepada Ismail diserahkannya uang sebanyak 400 dinar sesuai dengan jumlah rakaat yang ditinggalkannya pada malam Jumat yang silam. Itulah sebagian dari tanda-tanda karamah Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Bashrah, yang di hatinya hanya tersedia cinta kepada Tuhan. Begitu agungnya cinta itu bertaut antara hamba dan penciptanya sampai ia tidak punya waktu untuk membenci atau mencintai, untuk berduka atau bersuka cita selain dengan Allah.
Tiap malam ia bermunajat kepada Tuhan dengan doanya, “Wahai, Tuhanku. Di langit bintang-gemintang makin redup, berjuta pasang mata telah terlelap, dan raja-raja sudah menutup pintu gerbang istananya. Begitu pula para pecinta telah menyendiri bersama kekasihnya. Tetapi, aku kini bersimpuh di hadapan-Mu, mengharapkan cinta-Mu karena telah kuserahkan cintaku hanya untuk-Mu.”
Fariduddin al-Attar menceritakan dalam kitab Taz-kiratul Auliya bahwa Rabiah pandai sekali meniup seruling. Untuk jangka waktu tertentu ia menopang hidupnya dengan bermain musik. Namun, kemudian ia memanfaatkan kepandaiannya untuk mengiringi para sufi yang sedang berzikir dalam upayanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu ia mengunjungi masjid-masjid, dari pagi sampai larut malam. Namun, lantaran ia merasa dengan cara itu Tuhan tidak makin menghampirinya, maka ditinggalkannya semua itu.
Ia tidak lagi meniup seruling, dan ia tidak lagi mendatangi masjid-masjid. Ia menghabiskan waktu dengan beribadah dan berzikir. Setelah selesai salat isya, ia terus berdiri mengerjakan salat malam. Pernah ia berkata kepada Tuhan, “Saksikanlah, seluruh umat manusia sudah tertidur lelap, tetapi Rabiah yang berlumur dosa masih berdiri di hadapan-Mu. Kumohon dengan sangat, tujukanlah pandangan-Mu kepada Rabiah agar ia tetap berada dalam keadaan jaga demi pengabdiannya yang tuntas kepada-Mu.”
Jika fajar telah merekah dan serat-serat cahaya menebari cakrawala, Rabiah pun berdoa dengan khusyuk, “Ya, illahi. Malam telah berlalu, dan siang menjelang datang. Aduhai, seandainya malam tidak pernah berakhir, alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu bermesra-mesra dengan-Mu. illahi, demi kemuliaan-Mu, walaupun Kautolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan senantiasa menanti di depan pintu karena cintaku telah terikat dengan-Mu.”
Lantas, jika Rabiah membuka jendela kamarnya, dan alam lepas terbentang di depan matanya, ia pun segera berbisik, “Tuhanku. Ketika kudengar margasatwa berkicau dan burung-burung mengepakkan sayapnya, pada hakikatnya mereka sedang memuji-Mu. Pada waktu kudengar desauan angin dan gemericik air di pegunungan, bahkan manakala guntur menggelegar, semuanya kulihat sedang menjadi saksi atas keesaan-Mu.
Tentang masa depannya ia pemah ditanya oleh Sufiyan at-Thawri: “Apakah engkau akan menikah kelak?” Rabiah mengelak, “Pernikahan merupakan kewajiban bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah.” “Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?” “Karena telah kuberikan seluruh hidupku,” ujar Rabiah. “Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?” Dengan tulus Rabiah menjawab, “Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan.”

Umu Aiman


Umu Aiman

Kepada para sahabat, Rasulullah pernah bersabda, “Ini adalah ibuku sesudah ibuku.” Dan beliau memang selalu memanggilnya: Wahai ibu, meski bukan ibu kandungnya sendiri.
Siapa dia? Tiada lain Umu Aiman Al-Habasyiah. Seorang wanita dari Habasyah yang masuk Islam setelah Khadijah isteri Rasulullah. Ia adalah orang kedua yang memeluk Islam, dan meninggal sebagai syuhada dalam perang Hunain.
Ibnul Qayyim Al-Jauzi dalam kitab karyanya Zadut Ma’ad banyak mengisahkan Umu Aiman sebagai wanita yang mulia dan agung. Ia adalah ibu dari Usamah bin Zaid, kekasih Rasulullah dan panglima pasukan Islam ketika perang melawan Romawi.
Masa kecil hingga dewasa dijalani di rumah Abdul-Muthalib bersama Abdullah dan Aminah sebagai tuannya. Karena itu, Umu Aiman adalah wanita yang paling komplit menghayati kehidupan Muhammad, sejak masih bayi hingga menjadi Rasul.
la mengetahui, betapa sedih hati Abdul-Muthalib ketika ditinggal mati Abdullah anak kesayangannya sepulang dari berniaga ke Syam. Ia menyaksikan betapa gembira Abdul Muthalib menerima cucu lelakinya dari Aminah yang diberi nama Muhammad sehingga Abdul-Muthalib memberikan hadiah kepada seluruh keluarga dan orang-orang yang dekat dengannya.
Umu Aiman teringat masa tinggalnya di Madinah yang singkat, saat Muhammad baru berusia enam tahun. Waktu itu Aminah membawa puteranya berziarah ke kubur ayahandanya. Dan untuk beberapa waktu Aminah tinggal di rumah paman-pamannya.
Ia menyaksikan sendiri masa kecil Rasulullah, yang suka bermain-main dengan putera-putera pamannya. Pernah suatu hari Umu Aiman menyaksikan, ada seorang Yahudi memandang Muhammad kemudian berkata, “la adalah nabi umat ini, dan inilah tempat hijrahnya.”
Paman-pamannya mengetahui apa yang dikatakan Yahudi itu, dan memberitahukannya kepada ibu Muhammad. Mereka minta agar Aminah melindungi anaknya dari pengkhianatan orang-orang Yahudi. Karena merasa khawatir, maka Aminah kemudian segera kembali ke Makkah dan meninggalkan Madinah untuk menyelamatkan jiwa Muhammad, si calon nabi.
Umu Aiman masih ingat persis bagaimana Aminah sakit dalam perjalanan dari Madinah ke Mekkah yang akhirnya meninggal di tengah perjalanan di desa Abwa’. Kemudian Muhammad yang masih kecil, mengelilingi jasad ibunya, dan bertanya kepada Umu Aiman. Berbicara dengan Muhammad yang kecil, Umu Aiman hanya bisa berkata, “Itu adalah kematian, wahai anakku.” Kemudian ia membungkus jasad yang tertidur itu dan memejamkan kedua matanya. Setelah jasad Aminah dikubur, ia membawa si anak yatim piatu itu kembali ke Mekkah dan menyerahkannya kepada Abdul-Muthalib kakeknya. Ia mengasuh Muhammad sampai remaja, bahkan menemaninya dalam dakwah dan jihad di medan perang.
Dibebaskan Rasulullah
Ketika Muhammad menikah dengan Khadijah, beliau membebaskan Umu Aiman dan mengawinkannya dengan Ubaid bin Zaid. Dari perkawinan ini lahirlah Aiman, sehingga kemudian lebih akrab dipanggil Umu Aiman.
Ketika Muhammad menyatakan kerasulannya, Umu Aiman adalah wanita kedua setelah Khadijah yang menyatakan keislamannya. Betapa tidak, ia telah lama mengenal kelurusan budi Muhammad sejak dalam asuhannya. Ia mengetahui sendiri ramalan orang Yahudi sewaktu Muhammad dibawa ke Madinah. Ia mendengar sendiri berita dari Halimah Sa’diyah yang menyusui Rasulullah tentang perkataan pendeta Bukhaira kepada Abu Thalib perihal tanda-tanda kenabiannya sewaktu dibawa berdagang ke Syam.
Mengetahui ketulusan hati Umu Aiman, Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa ingin mengawini seorang wanita calon penghuni sorga, maka hendaklah ia mengawini Umu Aiman.” Setelah suami pertamanya telah meninggal, Umu Aiman dinikahi oleh Zaid bin Haritsah, yang kemudian melahirkan Usamah. Dialah seorang pahlawan muda Islam yang shalih dan gugur sebagai syuhada ketika melawan pasukan Romawi.
Sejauh mana ketabahan dan kesetiaan Umu Aiman terhadap perjuangan Islam, bisa dilihat ketika ia mengikuti Rasulullah hijrah ke Madinah. Ia tidak memiliki sanak keluarga yang melindungi dirinya dari gangguan orang musyrik. Karena tiada memiliki kendaraan, ia terpaksa berjalan kaki dari Makkah ke Madinah kemudian bergabung dengan Rasulullah.
Teriknya sengatan matahari yang membakar kulitnya selama dalam perjalanan sama sekali tidak dihiraukan. Dengan langkah pasti ia melewati padang pasir yang gersang tanpa bekal makanan dan air seteguk pun. Ketika tiba di Ruwaikha’ (suatu tempat antara Badar dan Madinah), ia kehabisan tenaga. Lapar dan haus telah melemahkan tubuhnya, namun tidak mematikan semangat hijrahnya. la pun lalu merebahkan tubuhnya agar keesokan harinya bisa melanjutkan perjalanan ke Madinah.
Sambil berbaring, matanya yang cekung menatap ke atas. Tiba-tiba dilihatnya sebuah tali putih bersih turun dari langit yang menggantung timba penuh air. Diminumnya air itu, dan hilanglah dahaga. Ia merasa kekuatannya pulih kembali. Dengan demikian berarti ia bisa melanjutkan perjalanannya lagi hingga sampai ke Thaibah.
Peristiwa yang sangat luar biasa itu diceritakan kepada setiap orang dengan jujur, dan diakuinya sebagai bukti tanda keagungan Allah. “Aku merasa tiada haus lagi setelah merasakan minuman itu. Aku berpuasa di panas yang terik, namun tiada merasakan haus,” kata Umu Aiman. Itulah pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang dengan ikhlas berjuang menegakkan agama-Nya.
Di Madinah, Umu Aiman bergabung dengan Rasulullah dan pasukannya. Ia selalu aktif ikut dalam sejumlah peperangan. Ia terjun ke medan perang untuk memberi minum para prajurit. Ia kirimkan putera tercintanya yang bernama Aiman untuk bertempur di medan laga, hingga kemudian gugur sebagai syuhada dalam perang Hunain. Zaid bin Haritsah suaminya pun juga mati syahid dalam perang Mu’tah. Namun demikian, Umu Aiman tetap tabah dan tawakal dalam menerima realita hidup.
Tangis Umu Aiman
Ketika Rasulullah wafat, Umu Aiman selalu menangis setiap kali mengingatnya. Abu Bakar dan Umar bin Khathab adalah orang yang selalu bertandang dan menjengunya. Setiap kali mereka datang, senantiasa mendapatkan Umu Aiman sedang menangis. “Mengapa engkau menangisinya, sedang kedudukan di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah?”, tanya Abu Bakar. Jawab Umu Aiman, “Aku tahu Rasulullah akan mati dan ia akan mendapatkan kebahagiaan di sisi Allah. Aku menangis bukan karena kematian beliau. Tapi karena wahyu telah terputus.” Dan ketika Umar bin Khathab meninggal terbunuh, ia pun menangis seraya berkata, “Sekarang Islam menjadi lemah.” Ia tidak rela melihat kelemahan umat Islam sepeninggal Umar.
Ketika anak dan suaminya gugur di medan laga, ia sama sekali tidak menangis. Sebab ia tahu, bahwa anak dan suaminya mati syahid dan sorga sebagai tempat kembali yang paling mulia. Ketika Rasulullah wafat, ia malah menangis karena wahyu terputus. Dan ketika Umar bin Khathab terbunuh dengan mengenaskan, ia menangis karena melihat kelemahan umat Islam. Adakah kini seorang wanita yang berjiwa besar seperti Umu Aiman?
Antara Umu Aiman dan Rasulullah terjalin rasa keakraban yang mendalam sejak Muhammad menjadi asuhannya. Suatu ketika Rasulullah pernah bersabda, “Inilah sisa keluargaku.” Karena dianggap sebagai ibunya sendiri, Muhammad selalu memperhatikan keperluan Umu Aiman, dan selalu menjenguk keadannya.
Rasulullah pada suatu hari pernah bercanda dengan Umu Aiman. Beliau mengatakan, “Tutuplah cadarmu, ya Uma Aiman.” Dan pernah pula pada suatu hari Umu Aiman berkata kepada Rasulullah, “Bawalah aku, ya Muhammad.” Rasulullah pun lalu bersabda, “Aku akan membawamu di atas anak unta.” Kemudian Umu Aiman menimpali, “Anak unta itu tidak akan mampu mengangkatku dan aku tidak mau.” Jawab Rasulullah, “Aku tetap akan membawamu di atas anak unta.”
Itulah sekelumit ilustrasi gurauan Rasulullah kepada ibunya. Gurauan Rasulullah memang benar. Sebab pada hakikatnya semua unta berasal dari anak unta. Melihat keakraban ini, Para sahabat sangat memahami kedudukan Umu Aiman dan putera-puteranya di sisi Rasulullah: Dan memahami pula kecintaan beliau terhadap mereka. Para sahabat pun kemudian ikut melakukan seperti apa yang di¬lakukan Rasulullah kepada Umu Aiman.
Di zaman pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Azis pernah terjadi suatu peristiwa yang menakjubkan. Ibnu Furat memusuhi Al-Hasan bin Usamah bin Zaid bin Haritsah. Ia berkata, “Hai putera Barakah.” Menerima hinaan dan olokan itu Al-Hasan mengadu kepada Abu Bakar ibnu Hazm, seorang Qadhi (hakim) di Madinah. Lalu Abu Bakar menegur Ibnu Furat, “Apa maksudmu dengan perkataan putera Barakah?”
Ibnu Furat menjawab, “Aku memanggil dia sesuai dengan nama panggilannya.” Abu Bakar ibnu Hazm lalu berkata, “Dengan begitu berarti engkau akan merendahkan dan menghinanya. Padahal keadaan dirinya cukup terkenal di dalam Islam. Rasulullah selalu menyebutnya dengan panggilan: Wahai ibu, wahai Umu Aiman. Sudah barang tentu Allah tidak akan memaafkan diriku bila aku memaafkan perbuatanmu. Aku harus menindakmu secara tegas.”
Atas peristiwa tersebut, maka Abu Bakar memerintahkan agar Ibnu Furat dijatuhi hukuman sesuai dengan kesalahannya. Memang, Umu Aiman pada kenyataannya bekas seorang sahaya. Tapi, kedudukannya di dalam Islam sangat mulia, setara dengan ibu Rasulullah. Dan beliau memang sudah mengakuinya sebagai ibu. Karenanya, hingga sampai anak cucunya pun masih harus dihormati. Kehormatan di¬berikan kepada anak cucu bukan saja karena perjuangan Umu Aiman, tapi karena memang akhlak mereka dapat dibanggakan dan diteladani.

Syam`un Al-Ghazy


Syam`un Al-Ghazy

Syam`un Al-Ghazy – Lelaki yang beribadah 1000 bulan
Pada suatu saat malaikat Jibril AS datang menemui nabi Muhammad SAW, kemudian menuturkan cerita tentang seorang laki-laki. Nama orang itu adalah Syam`un Al Ghazy, dia telah memerangi orang-orang kafir selama seribu bulan, sedangkan senjata yang digunakannya hanyalah jenggot unta.
Dikisahkan setiap kali dia memukul orang kafir dengan jenggot untanya tersebut, maka sudah dapat dipastikan orang yang bersangkutan akan langsung tewas. Entah sudah berapa banyak orang yang mati ditangan Syam`un yang memiliki senjata yang sangat aneh itu.
Menghadapi kekuatan Syam`un yang teramat sulit ditandingi, maka orang- orang kafir yang jumlahnya tak terhitung itu merasa kewalahan. Dan karena sudah kehabisan cara, akhirnya mereka berusaha membujuk isteri Syam`un yang juga termasuk orang kafir, agar mau diajak bersekongol untuk bersama-sama membunuhnya.
“Kami akan memberimu uang dan harta yang sangat banyak, agar engkau bersedia membunuh suamimu!” kata  salah seorang diantara kafir itu kepada isteri Syam`un.
“Saya tidak mampu membunuhnya,” jawab isteri Syam`un.
“Kami akan memberimu tali yang sangat kuat. Dengan tali itu, ikatlah kedua tangan dan kakinya sewaktu tidur. Setelah itu kamilah nanti yang akan membunuhnya,” kata orang kafir itu lagi.
Wanita kafir ini pun menyanggupinya, dan berhasil melakukan apa yang diperintahkan oleh orang- orang yang memusuhi suaminya.
Alkisah, ketika bangun tidur, tentu Syam`un merasa sangat terkejut mendapati kedua tangan serta kakinya sudah dalam keadaan terikat dengan tali yangi sangat kuat.
“Siapa gerangan orang-orang yang telah mengikat saya” tanya Syam’un sambil menatap isterjnya.
“Akulah yang telah mengikatmu, sekadar untuk mencoba kekuatanmu saja”, jawab isterinya. Rupanya sang isteri sengaja menjawab demikian dengan pertimbangan bila ternyata suaminya nanti mampu melepaskan- . diri dari ikatan itu, maka hal itu tak akan membahayakan dirinya. Kenyataannya Syam’un memang berhasil melepaskan diri.
Tak berhasil dengan cara itu, orang-orang kafir itu kemudian datang lagi sambil membawa rantai yang sangat kokoh. Isteri Syam’un lagi-lagi menyatakan kesediaannya untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh mereka dan berhasil. Ya… suaminya diikat dengan menggunakan rantai tersebut.
“Siapakah orang yang telah mengikat saya dengan rantai ini ? tanya Syam`un kepada isterinya, saat terbangun dari tidurnya.
“Saya yang melakukan itu,  sekadar untuk menguji kekuatanmu” ,jawab isterinya.. .
Maka Syam`un pun lalu menarik tangannya, dan seketika rantai yang membelenggu tangan serta kakinya langsung terputus.
“Hai isteriku, saya adalah seorang Wali Allah. Tak ada seorangpun yang akan sanggup merontokkan kekuatan saya, kecuali rambutku ini!” jelas Syam`un. Perlu diketahui, laki-laki yang dinugerahi karamah luar biasa oleh Allah SWT ini memang rnemiliki rambut yang sangat panjang. Disitulah rupanya letak kekuatannya (Kisah ini lah yang meng-inspirasikan kisah Samson)
Isteri Syam’un pun menyimak baik- baik apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Malam harinya dengan nekad dia kemudian memotong rambut Syam`un selagi Syam`un sedang tidur, dan mengikatnya. Alat atau tali yang digunakan untuk mengikat tak lain adalah rambutnya itu pula.
Ketika Syam`un terbangun dari tidurnya, lagi-lagi dia merasa terkejut karena tubuhnya telah dalam keadaan terikat.
“Siapakah yang telah mengikat tubuhku ini?” tanyanya kemudian. Dan isterinya pun memberi jawaban sama seperti yang sudah-sudah.
Syam`un menarik tali yang mengikat tubuhnya. Tetapi kali ini, meskipun sudah berusaha dengan sekuat tenaga, dia tetap tak bisa melepaskan tali pengikat yang terbuat dari rambut kepalanya sendiri itu.
Menyaksikan usahanya telah berhasil, isteri Syam`un buru-buru menemui orang kafir dan menceritakan apa yang terjadi. Maka segeralah mereka menemui Syam`un  lalu membawanya ke tempat penjagalan manusia. Laki-laki ini diikat disebuah tiang yang ada disitu dan orang-orang kafir itu kemudian memotong- motong anggota tubuhnya. Dengan sadisnya mereka mencungkil matanya, memotong kedua tangan dan kakinya, telinganya, lidahnya, bibirnya ,dan lain-lain.
Namun Allah SWT tak membiarkan seorang wali-Nya menderita seperti itu terlalu panjang. Dia lalu berfirman kepada Syam`un : “Apakah yang engkau kehendaki Syam`un?”
Syam`un pun menjawab, “Saya menghendaki agar Engkau memberi kekuatan kepada saya, sehingga nantinya mampu meruntuhkan tiang bangunan dan reruntuhannya menimpa mereka.”
“Allah SWT pun memberikan kekuatan luar biasa kepadanya. Lalu Syan`un menggerakkan tubuhnya, menyebabkan tiang bangunan menjadi patah berantakan, disusul ambruknya seluruh badan bangunan tersebut menimpa orang-orang kafir, mereka, termasuk isteri Syam`un semuanya langsung tewas.
Adapun Syam`un sendiri diselamatkan oleh Allah SWT, bahkan Dia juga mengembalikan semua anggota tubuhnya. Setelah itu Syam`un beribadah kepada Allah SWT siang malam selama seribu bulan…
Salah seorang diantara para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengetahui?” (maksudnya pahala ibadah Syam`un).
Rasulullah SAW mengatakan bahwa Beliau tidak mengetahui, berapa banyak pahala yang dianugerahkan Allah kepada Syam`un tsb.
Oleh karena itu maka Allah SWT kemudian menurunkan surat Al-Qadar melalui malaikat Jibril AS. Pada surat ini Allah menjelaskan, bahwa ibadah yang dilakukan seseorang pada malam Qadar (salah satu malam dibulan Ramadhan), itu adalah lebih baik dari ibadah yang dilakukan selama seribu bulan